Dari Perhatian ke Kelelahan: Krisis Media Sosial 2025
Saat interaksi digital semakin dangkal dan melelahkan, kita mulai mencari cara untuk membangun kembali ruang online yang lebih manusiawi.
- Dari Kejutan Menjadi Kebosanan
- Mengapa Kita Tak Bisa Berhenti Scrolling
- Offline yang Tak Bisa Lepas dari Online
- Arsitektur yang Didesain dengan Niat
- Grup Privat yang Lebih Bermakna
- Mengembalikan Niat dalam Interaksi Digital
- Contoh Platform yang Berbeda: Are.na
- Mimpi Internet yang Lebih Manusiawi
- Mengubah Platform Menjadi Layanan Publik
- Tantangan yang Masih Ada
- Kesimpulan: Mengambil Kembali Kendali
Dari Kejutan Menjadi Kebosanan
Dulu, media sosial penuh kejutan.
Setiap scroll terasa seperti membuka kotak misteri yang tak ada habisnya. Kini? Feed terasa datar, membius kita dengan konten tanpa makna.
-
Outrage fatigues – kita terlalu sering marah hingga kehilangan tenaga untuk peduli.
-
Irony flattens – humor terasa hambar karena diproduksi massal.
-
Virality cannibalizes itself – konten viral habis dimakan oleh algoritma yang mencetak tiruannya lagi dan lagi.
Feed tak lagi menjadi tempat berinteraksi, melainkan permukaan yang sekadar dilirik.
Kita tak benar-benar “hadir” di sana, hanya lewat dan tergelincir dalam kebiasaan.
Mengapa Kita Tak Bisa Berhenti Scrolling

Tidak ada yang memaksa kita untuk membuka TikTok atau Instagram.
Tapi algoritma pintar berhasil menciptakan cermin bengkok yang merefleksikan sekaligus mendistorsi impuls terburuk kita.
Khususnya bagi generasi muda, scrolling bisa menjadi perilaku kompulsif:
-
Otak mereka menerima “kejutan dopamin” yang tak terduga.
-
Setiap kejutan membuat mereka semakin lengket pada layar.
-
Semakin sering mereka scroll, semakin sulit untuk berhenti.
Yang lebih rumit lagi, tidak ikut serta di media sosial kini dianggap seperti mengasingkan diri.
Seolah-olah kita mengunci diri di luar dunia, dan hanya mereka yang “punya privilese” yang bisa membayar harga untuk keluar dari pusaran ini.
“Kenapa harus posting selfie kalau AI bisa bikin foto yang lebih cantik? Kenapa harus menulis pemikiran kalau ChatGPT bisa membuatnya lebih cepat?”
Offline yang Tak Bisa Lepas dari Online
Dunia offline kita kini dibentuk secara permanen oleh dunia online.
Beberapa contoh nyata:
-
Seorang profesional yang tidak punya akun LinkedIn bisa terisolasi dari jaringan kerja yang kini hanya eksis di platform digital.
-
Pemilik bisnis kecil yang meninggalkan Instagram mungkin akan kehilangan pelanggan ke kompetitor yang masih aktif di media sosial.
-
Remaja yang menolak menggunakan TikTok akan kesulitan memahami meme dan budaya mikro yang menjadi bahasa gaul teman-temannya.
Media sosial tidak hanya merebut perhatian kita, tetapi juga mengurung ruang publik tempat modal sosial, ekonomi, dan budaya dipertukarkan.
Namun, di balik kelelahan ini, perlawanan mulai tumbuh.
Alternatif baru perlahan muncul.
Kembangkan aplikasi online lebih cepat dengan bantuan AI—mulai disini Jasa Pembuatan Aplikasi Smartphone (Gawai) Android OS Jasa Renovasi/Perombakan Tampilan Situs Web Dinamis dan Statis Jasa Pembuatan Hingga Kustomasi Aplikasi Berbasis Website Jasa Pengelolaan Website Joomla, Wordpress, Hingga CMS Lainnya
Arsitektur yang Didesain dengan Niat
Pengganti media sosial massal bukanlah satu platform besar,
melainkan kumpulan ruang-ruang kecil: grup chat, forum tertutup, server Discord, hingga microblog federatif.
Seperti kebun kecil yang tumbuh liar setelah hutan besar terbakar.
Bayangkan platform raksasa seperti Facebook atau TikTok yang suatu hari nanti ditinggalkan pengguna, menjadi seperti mal tua yang penuh echo bot dan kenangan obrolan manusia yang sudah lama hilang.
Kadang kita mungkin akan kembali sekadar karena nostalgia,
tetapi tempat itu tidak lagi menjadi pusat kehidupan digital.
Masa depan internet sosial mengarah ke web yang lebih tenang, terpecah, namun lebih manusiawi:
-
Tidak lagi menjanjikan segalanya untuk semua orang.
-
Tidak lagi memaksa kita tampil demi algoritma.
-
Hanya orang-orang yang benar-benar memilih untuk hadir.
Grup Privat yang Lebih Bermakna

Di ruang seperti ini, konteks dan koneksi asli bisa bertahan.
Contoh yang semakin populer:
-
Grup Signal atau WhatsApp yang hanya bisa diakses dengan undangan.
-
Lingkaran kecil di Instagram yang penuh percakapan personal, bukan konten viral.
-
Forum tertutup yang fokus pada topik mendalam, bukan sekadar trending.
Perbedaan utamanya:
-
Di sini, pesan ditujukan langsung, bukan disiarkan ke massa.
-
Tidak ada “like” atau angka penilaian yang membuat orang berlomba tampil.
-
Maknanya datang dari hubungan yang dipilih, bukan jumlah pengikut.
Pesan yang dikirim dalam grup ini memiliki berat emosional lebih besar, karena ditujukan kepada orang tertentu, bukan sekadar audiens anonim.
Mengembalikan Niat dalam Interaksi Digital

Logika media sosial saat ini dirancang untuk menghilangkan gesekan:
-
Konten tanpa akhir.
-
Scroll tanpa henti.
-
Kepuasan instan.
Solusinya justru adalah menambahkan jeda, menciptakan momen refleksi sebelum kita bereaksi.
Desain seperti ini disebut “arsitektur intensionalitas”.
Beberapa ide revolusioner:
-
X (Twitter) memberikan delay 90 detik sebelum posting balasan, bukan untuk menghalangi, tetapi untuk meredam reaksi impulsif.
-
Instagram menampilkan durasi scroll sebelum kamu bisa mengunggah postingan baru, agar kamu sadar waktu yang terbuang.
-
Facebook menampilkan biaya karbon dari pusat datanya, mengingatkan bahwa setiap refresh punya konsekuensi nyata.
Desain yang memperlambat interaksi ini adalah kebalikan dari desain UX modern yang selama ini mengoptimalkan kecepatan dan adiksi.
Dengan sedikit “gangguan yang disengaja”, kita bisa memutus siklus konsumsi pasif dan mengembalikan kendali ke tangan manusia.
Contoh Platform yang Berbeda: Are.na
Salah satu contoh nyata adalah Are.na, platform nirlaba tanpa iklan yang diluncurkan tahun 2014.
Bayangkan Pinterest, tapi tanpa:
-
Algoritma yang menentukan apa yang kamu lihat.
-
Tab trending yang memaksa kamu ikut arus.
-
Scroll tak berujung yang bikin lupa waktu.
Di Are.na:
-
Kamu menghubungkan ide secara manual, dengan kesadaran penuh.
-
Tidak ada konten yang diperingkatkan.
-
Tidak ada sistem angka yang memberi tekanan sosial.
Hasilnya adalah interaksi yang lebih lambat dan bermakna, seperti berbicara dengan teman dekat, bukan berteriak di tengah keramaian.
Mimpi Internet yang Lebih Manusiawi
Bayangkan dunia digital di mana:
-
Kedekatan tidak diukur dari jumlah followers,
tetapi dari kedalaman kepercayaan dan kualitas percakapan. -
Komunitas terbentuk berdasarkan kepedulian dan minat bersama,
bukan prediksi algoritma yang mengejar engagement. -
Ruang publik seperti Facebook dan TikTok tetap ada,
tapi berdampingan dengan banyak ruang semi-publik yang lebih sehat.
Di masa depan ini, orang-orang hadir bukan untuk viral,
tetapi untuk benar-benar dilihat dan didengar dalam konteks yang tepat.
Mengubah Platform Menjadi Layanan Publik

Solusi paling radikal justru terasa paling familiar:
Bagaimana jika media sosial diperlakukan seperti layanan publik, bukan kasino privat?
Ini bukan berarti pemerintah harus mengontrol media sosial.
Sebaliknya, mereka bisa diatur dengan piagam sipil yang:
-
Menyeimbangkan kemandirian dan akuntabilitas.
-
Menempatkan kepentingan publik di atas keuntungan semata.
Beberapa ide yang mungkin diwujudkan:
-
Algoritma yang transparan dan bisa diaudit publik.
-
Dewan perwakilan pengguna untuk mengawasi kebijakan platform.
-
Model pendanaan berbasis iuran anggota, bukan iklan berbasis pengawasan.
-
Laporan dampak rutin yang mengukur efek sosial, bukan hanya angka penggunaan.
Tantangan yang Masih Ada
Memang sudah ada beberapa upaya ke arah ini, tapi masih setengah hati:
-
Meta’s Oversight Board: memberi kesempatan banding pada moderasi konten, tapi kekuasaannya sangat terbatas.
-
Community Notes di X: memungkinkan pengecekan fakta oleh pengguna, tapi mekanismenya tidak transparan.
Keduanya hanyalah “tempelan” pada logika lama, bukan desain ulang total.
Perubahan sejati harus tertanam dalam struktur inti platform, bukan ditambahkan setelah masalah terjadi.
“Tidak berpartisipasi kini seperti mengasingkan diri,
dan hanya mereka yang mampu yang bisa membayar harganya.”
Kesimpulan: Mengambil Kembali Kendali
Hari ini, media sosial bukan hanya melelahkan — ia telah mengubah cara kita memaknai hubungan, komunitas, bahkan identitas.
Namun, harapan belum hilang.
Dengan:
-
Ruang digital yang lebih kecil dan bermakna,
-
Desain yang memperlambat, bukan mempercepat,
-
Dan tata kelola yang berpihak pada manusia,
Kita bisa membangun kembali internet yang lebih manusiawi,
di mana kita hadir bukan untuk angka, tetapi untuk saling melihat dan terhubung.
Bersambung → Bagian 4
Pada bagian terakhir, kita akan membahas strategi membangun internet yang benar-benar sehat dan berkelanjutan untuk masa depan.
Sumber: James O'Sullivan, 2 September 2025.
Blog ini didukung oleh pembaca. Rizal IT Consulting dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda bertransaksi di tautan yang ditampilkan di situs ini. Ikuti kami juga di Google News Publisher untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru. Info lanjut, kolaborasi, sponsorship dan promosi, ataupun kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207 | .