Bagaimana Kita Menjadi Tawanan Media Sosial (Bagian 3 dari 3 artikel)
Media sosial hari ini telah bergeser dari sekadar platform jejaring sosial menjadi ban berjalan hiburan kosong yang dipacu oleh AI. Masih bisakah kita keluar dari jerat ini?
Keintiman Algoritma
Perubahan yang terjadi di platform media sosial — tempat miliaran orang menghabiskan sebagian besar waktunya — jelas berdampak pada kehidupan offline kita. Polarisasi politik di Amerika Serikat, misalnya, erat kaitannya dengan algoritma media sosial dan filter bubble selama satu dekade terakhir.
Feed berita yang terisolasi memperkuat pandangan yang serupa hingga kita jarang terekspos pada sudut pandang berlawanan. Suara moderat perlahan menghilang di ekosistem informasi yang justru tidak memberi insentif bagi mereka. Akibatnya, perpecahan sistemik di dunia digital ikut merobek jalinan sosial di dunia nyata, meruntuhkan kesepahaman yang dulu memberi kesan kohesi.
Kembangkan aplikasi online lebih cepat dengan bantuan AI—mulai disini Jasa Pembuatan Aplikasi Smartphone (Gawai) Android OS Jasa Renovasi/Perombakan Tampilan Situs Web Dinamis dan Statis Jasa Pembuatan Hingga Kustomasi Aplikasi Berbasis Website Jasa Pengelolaan Website Joomla, Wordpress, Hingga CMS Lainnya
Istilah “digital solipsism”, diperkenalkan oleh I.R. Medelli pada 2021, menggambarkan bagaimana media sosial menenggelamkan kita dalam ekosistem informasi yang hanya memvalidasi pandangan sendiri tanpa memaksa berhadapan dengan perspektif yang berlawanan.
Sifat tak berwujud dari pengalaman ini, ditambah kemampuan platform mengkurasi feed yang mencerminkan keyakinan kita, mendorong cara pandang yang lebih narsistik dan kurang saling bergantung.
“Feed berita yang terisolasi memperkuat pandangan serupa hingga kita jarang terekspos pada sudut pandang berlawanan.”
Jenn Louie, mantan pimpinan di Facebook dan Google, mengalami apa yang ia sebut sebagai “krisis hati nurani.” Selama menjabat sebagai kepala integritas platform di Facebook, ia melihat langsung bagaimana misinformasi berkembang, berkontribusi pada kekerasan, terorisme, manipulasi, penipuan, hingga korban nyata. Ia kecewa dengan lemahnya moderasi konten dan akhirnya keluar, memilih fokus pada upaya menjadikan media sosial lebih aman.
Kini, Louie mengkhawatirkan keterikatan emosional orang terhadap algoritma yang sangat personal. “Kita sudah melihat tingkat keintiman tertentu antara orang dan profil media sosialnya,” ujarnya.
“Hubungan itu makin melekat dalam hidup kita, hingga terasa sulit dipisahkan.”
Sebagai konsultan keamanan AI di PBB, ia takut keintiman ini akan menggerus identitas lain, termasuk hubungan manusia dan kendali atas hidup kita sendiri.
AI berpotensi memainkan peran besar dalam hubungan intim ini. Daniel Barcay dari Center for Humane Technology menyebut fenomena “AI sycophancy” — cara chatbot didesain untuk selalu memuji dan menyenangkan pengguna.
Banyak perusahaan merasa terpaksa mengembangkan model AI dengan perilaku semacam itu karena takut kalah bersaing. “Kalau saya tidak membuat model saya menjilat dan menyenangkan, perusahaan lain akan melakukannya,” katanya.
Integrasi model bahasa besar (LLM) ke media sosial berisiko memperdalam digital solipsism. Chatbot “penurut” ini akan mencerminkan ide kita, menenangkan ego kita, dan menjauhkan kita dari pluralisme dunia nyata. Bagi Barcay, masa depan ala “Zuckerberg” di mana dinding sosial kita dipenuhi teman digital pengganti manusia terdengar distopia dan merendahkan kemanusiaan.
Layar yang Menyerap Tanpa Henti
Dalam karyanya Simulacra and Simulation (1981), filsuf Jean Baudrillard meramalkan dengan tepat pergeseran menuju kehidupan yang dijalani di ruang virtual. Ia menekankan bahwa masyarakat pascamodern bergerak dari produksi menuju “simulasi.”
Dalam dunia ini, orang terus-menerus berinteraksi dengan sumber hiburan, informasi, dan permainan, dari video game hingga lanskap media yang padat. Simulacra realitas ini begitu merangsang hingga melampaui “gurun kenyataan,” menciptakan hiperrealitas yang lebih intens daripada kehidupan sehari-hari.
Sejak saat itu, dunia digital kita berkembang lebih jauh dari yang mungkin dibayangkan Baudrillard. Lingkungan digital yang jenuh menawarkan “ekstasi komunikasi,” namun konsekuensinya kini jelas. Semua simulacra — bayangan di dinding gua — makin memutus kita dari objek nyata. Instagram, TikTok, budaya meme, dan model AI terus mengacak-acak teks dan gambar dalam skala masif, membuat pikiran kita terlempar ke disosiasi mabuk informasi.
Paparan berkelanjutan terhadap hiperrealitas ini bisa membuat manusia kehilangan pemahaman tentang kebenaran objektif, bahkan melemahkan kapasitas menjalin hubungan nyata. Terlalu tenggelam dalam labirin simbol yang diperkuat AI, kita menjadi canggung menghadapi dunia nyata yang penuh gesekan. Ironinya, kita sendiri bisa berubah menjadi sekadar “wadah baru” bagi arus konten tanpa henti — sebuah layar murni, permukaan yang hanya menyerap dan memantulkan bayangan-bayangan digital.
Sumber: Mike Mariani (12 Agustus 2025)
Blog ini didukung oleh pembaca. Rizal IT Consulting dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda bertransaksi di tautan yang ditampilkan di situs ini. Ikuti kami juga di Google News Publisher untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru. Info lanjut, kolaborasi, sponsorship dan promosi, ataupun kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207 | .