Runtuhnya Media Sosial: Engagement Anjlok, Bangkitnya Komunitas Baru
Engagement menurun drastis. Feed yang dulu ramai kini terasa dingin. Sementara itu, orang-orang mulai berpindah ke ruang digital yang lebih kecil, lebih privat, dan lebih manusiawi.
- OnlyFans dan Ekonomi Bayangan yang Menguasai Media Sosial
- Engagement di Titik Nadir
- Kenapa Platform Tak Bertindak?
- The Great Unbundling: Dari Arena Massal ke Kebun Kecil
- Komunitas Baru yang Lebih Dalam
- Raksasa Mulai Beradaptasi
- Dari Perhatian Menuju Kelelahan
- Kesimpulan: Dunia yang Jenuh, Manusia yang Lelah
OnlyFans dan Ekonomi Bayangan yang Menguasai Media Sosial
Dulu, OnlyFans dianggap sebagai sudut kecil dari internet — hanya populer di kalangan situs kamera daring (cam sites).
Namun kini, platform ini berubah menjadi pasar digital utama bagi para pekerja seks daring.
Bayangkan: pada tahun 2023, OnlyFans yang saat itu baru berusia tujuh tahun berhasil menghasilkan $6,63 miliar dalam pembayaran dari para penggemarnya, dengan $658 juta keuntungan sebelum pajak.
Keberhasilan ini perlahan-lahan merembes ke seluruh jagat media sosial.
Platform seperti X (dulu Twitter) kini menjadi semacam lapak marketing tidak resmi bagi kreator OnlyFans. Ribuan akun bekerja seperti mesin pemasaran yang memancing rasa penasaran pengguna, lalu menggiring mereka menuju langganan berbayar.
Dan alat untuk menggoda pun ikut berevolusi:
-
Foto profil palsu yang dibuat dengan AI, ribuan jumlahnya.
-
Video berbentuk talking head dengan suara sintetis yang terdengar meyakinkan.
-
Selfie yang tidak ada habisnya, hasil modifikasi algoritma.
-
Pesan pribadi (DM) yang diotomatisasi atau bahkan dikelola sepenuhnya oleh chatbot AI.
Bagi pengguna biasa, pengalaman ini terasa aneh dan membingungkan.
Satu menit kamu sedang berdebat tentang politik, menit berikutnya, sebuah bot menawarkanmu “pengalaman pacar” lengkap dengan emoji love dan kalimat manis.
Kembangkan aplikasi online lebih cepat dengan bantuan AI—mulai disini Jasa Pembuatan Website Joomla, Wordpress dan Web Dinamis Lain Konversikan Situs Web ke Aplikasi Android Dengan WebViewGold Pembuatan Aplikasi Berbasis Web Sistem Manajemen Sekolah Jasa Renovasi/Perombakan Tampilan Situs Web Dinamis dan Statis
Engagement di Titik Nadir
Konten memang terus membanjir. Tapi engagement? Justru jatuh bebas.
Data terbaru menunjukkan:
-
Facebook dan X kini hanya mencapai rata-rata 0,15% engagement.
-
Instagram turun hingga 24% dibanding tahun lalu.
-
Bahkan TikTok, yang selama ini tak tergoyahkan, mulai menunjukkan tanda-tanda stagnasi.
Mengapa? Karena orang-orang tidak lagi benar-benar terhubung.
Feed mereka dipenuhi konten murahan (slop): konten dengan usaha minim, kualitas rendah, diproduksi secara massal, seringkali oleh AI, hanya untuk mengejar klik.
“While content proliferates, engagement is evaporating.”
Hanya kurang dari separuh orang dewasa di Amerika yang kini percaya bahwa informasi di media sosial “kebanyakan dapat dipercaya.”
Pada pertengahan 2010-an, angka ini masih mencapai dua pertiga.
Generasi muda menunjukkan penurunan kepercayaan yang paling tajam — wajar saja, mereka tahu banyak konten di layar mereka tidak benar-benar dibuat manusia.
Namun anehnya, mereka tetap terus scrolling.
Bukan untuk mencari informasi, tapi karena feed sudah berubah fungsi:
-
Dari tempat berbagi cerita → menjadi mesin pengatur mood.
-
Scroll dilakukan setengah sadar, setengah terpaksa, seperti menggaruk rasa gatal yang tak kunjung hilang.
-
Mereka tahu feed itu palsu, tapi mereka tak lagi peduli.
Kenapa Platform Tak Bertindak?
Jawaban singkatnya: karena bot itu murah dan menguntungkan.
Akun sintetis:
-
Tidak perlu digaji.
-
Tidak akan protes atau membentuk serikat pekerja.
-
Bisa bekerja 24 jam tanpa lelah.
Sistem algoritma yang dulu dirancang untuk memunculkan interaksi manusia kini justru menyaring interaksi itu keluar.
Engagement tidak lagi tentang percakapan, tetapi tentang perhatian mentah:
-
Berapa lama seseorang berhenti di satu postingan.
-
Seberapa cepat mereka scroll.
-
Berapa banyak tayangan iklan yang bisa dimunculkan.
Hasil akhirnya: kita terus dituju, tapi tak pernah benar-benar diajak bicara.
The Great Unbundling: Dari Arena Massal ke Kebun Kecil
Kematian media sosial tidak akan terjadi dengan ledakan, melainkan dengan bahu terangkat acuh tak acuh.
Dulu, setiap platform punya fungsi jelas:
-
Facebook sebagai pusat sosial.
-
Twitter sebagai kawat berita.
-
YouTube sebagai stasiun TV online.
-
Instagram sebagai album foto.
-
TikTok sebagai mesin hiburan instan.
Namun kini, model itu mulai retak.
Pengguna berpindah ke ruang-ruang kecil, privat, dan lambat seperti:
-
Grup chat WhatsApp,
-
Server Discord,
-
Microblog federatif seperti Mastodon dan BlueSky.
Bayangkan internet sebagai sejuta kebun kecil yang tumbuh sendiri-sendiri.
Nikmati fitur lengkap dari aplikasi favorit kamu tanpa ribet. Langganan aman dan cepat lewat link ini Berbisnis halal bikin hati tenang. Cek caranya disini! Ubah idemu jadi aplikasi online siap pakai lebih cepat bersama Emergent Domain, Hosting, Hingga VPS Murah untuk Proyek Anda! Tingkatkan SEO Website Dengan Ribuan Weblink Bebagai Topik!
Bukti-Bukti Perubahan
-
X kehilangan 15% pengguna global sejak diakuisisi Elon Musk.
-
Threads dari Meta, yang sempat heboh saat peluncuran 2023, anjlok drastis hanya dalam sebulan: dari 50 juta pengguna harian → turun ke 10 juta.
-
Twitch pada Desember 2024 mencatat jam tonton terendah dalam 4 tahun terakhir, yaitu 1,58 miliar jam (turun 11% dibanding rata-rata 2020–2023).
Bahkan raksasa seperti Facebook dan TikTok tak lagi tumbuh pesat.
Beberapa platform malah benar-benar mati:
-
Vine, Google+, Yik Yak → tamat riwayatnya.
-
Tumblr, Ello → mati suri.
-
MySpace, Bebo → hidup lagi lalu mati lagi.
Per awal 2025, sekitar 5,3 miliar identitas pengguna ada di platform sosial, mewakili 65% populasi dunia.
Namun pertumbuhan tahunannya hanya 4–5%, jauh di bawah lonjakan dua digit di awal 2010-an.
Komunitas Baru yang Lebih Dalam
Di tengah keruntuhan ini, muncul komunitas-komunitas berbasis niat dan pilihan, bukan massal dan acak seperti feed.
Contohnya:
-
Kolektif Patreon
-
Newsletter Substack
-
Grup eksklusif di Discord
Di sini, kedalaman lebih penting dari skala.
Seorang penulis dengan 10.000 pelanggan setia bisa hidup lebih tenang dibanding influencer dengan 1 juta pengikut pasif di Instagram.
Namun, praktik lama belum sepenuhnya hilang:
-
Substack masih dipenuhi personal branding yang memamerkan perjalanan kreator.
-
Server Discord kadang dikuasai influencer yang menyamar sebagai pemimpin komunitas.
-
Patreon sering kali hanya menawarkan konten daur ulang.
Meski begitu, ada perbedaan penting:
-
Ruang ini terasa seperti klub, bukan stadion.
-
Orang-orang mengingat siapa dirimu.
-
Biasanya berbayar atau dimoderasi ketat, sehingga bot sulit masuk.
-
Yang dijual bukan hanya konten, tapi rasa kedekatan.
Di sini, kreator tidak mengejar viralitas, tapi menumbuhkan kepercayaan.
Raksasa Mulai Beradaptasi
Bahkan platform besar mulai membaca tanda-tanda zaman:
-
Instagram kini lebih fokus ke DM.
-
X mendorong fitur circle khusus pelanggan.
-
TikTok mulai bereksperimen dengan komunitas privat.
Langkah ini secara tidak langsung mengakui bahwa infinite scroll yang dipenuhi bot dan spam sudah mendekati batas toleransi manusia.
Dari Perhatian Menuju Kelelahan
Selama dua dekade, internet sosial dibangun di atas ekonomi perhatian.
Awalnya, janji utamanya sederhana:
“Kami akan menangkap perhatianmu, dan kamu juga bisa mendapatkan sepotong perhatian orang lain.”
Namun kini, janji itu berbalik arah.
Koneksi berubah menjadi kelelahan.
Fenomena seperti “dopamine detox” dan “digital sabbath” menjadi tren.
Survei American Psychiatric Association mencatat bahwa banyak orang Amerika usia 18–34 tahun sengaja beristirahat dari media sosial demi kesehatan mental.
Ironisnya, meskipun mereka tahu media sosial melelahkan, waktu yang dihabiskan tetap tinggi.
Mereka scroll bukan karena suka, tapi karena tidak tahu cara berhenti.
Beberapa tanda lain:
-
Influencer kesehatan mental kini mempopulerkan “No-Screen Sundays”, hari tanpa layar.
-
Tren hipster baru: bukan lagi topi beanie, tapi ponsel Nokia jadul.
Bahkan para kreator pun mulai menyerah.
Menghadapi persaingan dengan konten AI yang tak pernah tidur, mereka merasa lelah dan absurd:
“Kenapa harus posting selfie, kalau AI bisa bikin yang lebih cantik?”
“Kenapa harus menulis ide, kalau chatbot bisa melakukannya dalam hitungan detik?”
Kesimpulan: Dunia yang Jenuh, Manusia yang Lelah
Hari-hari terakhir media sosial bukan karena kurangnya konten,
tetapi karena kapasitas perhatian manusia sudah mencapai batas.
Sekarang ada lebih banyak hal untuk ditonton, dibaca, dan diklik daripada sebelumnya.
Namun novelty (hal baru) kini sulit dibedakan dari noise (kebisingan).
Setiap scroll menambahkan sesuatu,
namun setiap tambahan justru mengurangi makna.
Kita tenggelam dalam banjir konten, sampai bahkan postingan paling emosional sekalipun hanya mampu memancing sekilas lirikan.
Inilah paradoks media sosial hari ini: semakin banyak yang ditawarkan, semakin sedikit yang benar-benar kita pedulikan.
Bersambung → Bagian 3
“Dari Perhatian Menuju Kelelahan” akan membahas lebih dalam dampak mental dan sosial dari krisis ini, serta bagaimana kita bisa mulai membangun kembali internet yang lebih manusiawi.
Sumber: James O'Sullivan, 2 September 2025.
Blog ini didukung oleh pembaca. Rizal IT Consulting dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda bertransaksi di tautan yang ditampilkan di situs ini. Ikuti kami juga di Google News Publisher untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru. Info lanjut, kolaborasi, sponsorship dan promosi, ataupun kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207 | .







