5 Alat Produktivitas untuk Kerja dari Rumah Lebih Fokus
Bekerja dari rumah itu menyenangkan—tidak kena macet, bisa pakai pakaian santai, dan lebih fleksibel mengatur hari. Tapi di balik semua kelebihannya, ada satu tantangan besar: tetap terorganisir di tengah banyak proyek, deadline, dan distraksi.
Bagi penulis, tantangan utamanya bukan cuma notifikasi yang tidak ada habisnya, tetapi bagaimana menjaga semua tugas tetap tertata: draft artikel, revisi dari editor, jadwal meeting, hingga email penting yang tidak boleh terlewat. Penulis juga bukan tipe orang yang secara alami sangat terstruktur, jadi penulis mengandalkan beberapa alat untuk memastikan semua tetap berjalan rapi.
Seiring waktu, penulis akhirnya bertahan dengan lima alat produktivitas yang saling melengkapi tanpa membuat workflow jadi terlalu rumit. Mulai dari aplikasi catatan hingga timer fisik sederhana yang membantu fokus. Setiap alat mengisi “celah” berbeda dalam cara penulis mengelola hari kerja.
DAFTAR ISI
- Google Calendar: Satu Shortcut yang Mengalahkan Kebiasaan Buka Kalender Berulang Kali
- Obsidian: Beralih dari Notion dan Tidak Menoleh ke Belakang Lagi
- Slack: Tidak Perlu Menunggu Balasan Email Berjam-jam
- Claude: AI yang Lebih Berguna Saat Terhubung dengan Workflow
- Pomodoro Timer Fisik: Menjauhkan Ponsel, Menjaga Fokus
- Tetap Terorganisir Tanpa Membuat Hidup Terlalu Rumit
- Butuh Bantuan Menyusun Sistem Kerja dari Rumah yang Lebih Rapi?
Google Calendar: Satu Shortcut yang Mengalahkan Kebiasaan Buka Kalender Berulang Kali

Bagi penulis, Google Calendar adalah “pusat komando” untuk semua hal yang berhubungan dengan waktu. Semua jadwal meeting, deadline tulisan, hingga janji pribadi seperti kontrol kesehatan atau urusan keluarga disimpan di sini. Dengan begitu, kecil kemungkinan ada hal penting yang lolos dari radar.
Kenapa Google Calendar Jadi Pusat Pengaturan Waktu
Google Calendar membantu penulis:
-
Menyatukan jadwal kerja dan pribadi dalam satu tampilan
-
Melihat deadline penting tanpa harus membuka banyak aplikasi
-
Mengurangi risiko bentrok jadwal antara proyek yang berbeda
Satu hal kecil yang membuat Google Calendar terasa wajib adalah cara cepat menambahkan event. Alih-alih membuka aplikasi dan klik sana-sini, penulis cukup mengetik cal.new di browser. Dalam sekejap, jendela event baru muncul dan bisa langsung diisi. Untuk orang yang sering juggling banyak task, detik-detik yang dihemat ini terasa nyata sepanjang hari.
Warna, Reminder, dan Sinkronisasi yang Menyelamatkan
Agar lebih mudah dibaca sekilas, penulis menggunakan color-coding:
-
Warna tertentu untuk proyek klien
-
Warna lain untuk pekerjaan pribadi
-
Warna berbeda lagi untuk hal-hal rumah tangga atau keluarga
Dalam sekali pandang, penulis bisa melihat seperti apa bentuk minggu yang akan datang tanpa harus membaca satu per satu.
Pengaturan reminder juga sederhana tapi krusial:
-
15 menit sebelum meeting dimulai
-
H-1 sebelum deadline besar
Google Calendar juga terasa unggul karena kombinasi dengan Google Keep jauh lebih praktis dibanding beberapa aplikasi produktivitas berbayar. Keduanya terintegrasi dengan layanan yang sudah penulis pakai sehari-hari.
Ketika penulis menjadwalkan Zoom call atau Google Meet, link meeting otomatis masuk ke event. Semuanya tersinkronisasi tanpa perlu aplikasi tambahan untuk mengelola video conference atau takut jadwal di satu platform tidak cocok dengan platform lain.
Untuk pembaca di Indonesia—baik Anda ASN, guru, atau karyawan swasta—setup seperti ini bisa membantu menjaga rapat daring, deadline laporan, dan agenda keluarga tetap sinkron dalam satu kalender.
Obsidian: Beralih dari Notion dan Tidak Menoleh ke Belakang Lagi

Kalau Google Calendar adalah pusat waktu, maka Obsidian adalah pusat pengetahuan penulis. Semua:
-
Catatan riset
-
Ide artikel
-
Draft awal
-
Referensi penting
disimpan di Obsidian. Ini adalah aplikasi pencatat berbasis Markdown yang menyimpan data secara lokal di komputer, bukan di cloud (kecuali Anda sengaja mengaktifkannya).
Kenapa Penulis Pindah dari Notion ke Obsidian
Sebelum Obsidian, penulis mengandalkan Notion. Tapi lama-kelamaan workspace Notion berubah menjadi:
-
Tumpukan proyek setengah jadi
-
Banyak halaman yang tidak pernah dirapikan
-
Beban mental karena terlalu banyak blok dan database
Yang paling mengganggu adalah waktu loading. Saat penulis sedang meeting dan butuh cepat membuka catatan, Notion yang lambat membuat alur kerja terputus. Akhirnya, penulis mencoba Obsidian dan merasa lebih cocok.
Kekuatan Utama Obsidian: Linking dan Plain Text
Ada beberapa alasan kenapa Obsidian “klik” dengan cara kerja penulis:
-
Sistem tautan antar catatan
Penulis bisa menghubungkan catatan yang saling terkait. Misalnya, penulis sedang menulis tentang alat produktivitas kerja dari rumah], penulis dengan cepat bisa menarik catatan riset lama yang topiknya mirip tanpa harus menggali folder satu per satu.File berbentuk plain text
Obsidian menggunakan file teks biasa berbasis Markdown. Artinya:-
Tidak terkunci di format proprietary
-
Kalau suatu hari Obsidian berhenti ada, semua catatan tetap bisa dibuka di editor teks mana pun
Rasa aman seperti ini penting ketika Anda membangun knowledge base jangka panjang.
-
-
Struktur folder yang fleksibel
Sebelum membuat “vault” Obsidian, penulis meluangkan waktu untuk memikirkan struktur folder:-
Folder untuk pekerjaan klien
-
Folder untuk tulisan pribadi
-
Folder untuk referensi umum (kutipan, sumber bacaan, template)
Dengan begitu, catatan tidak bercampur dan lebih mudah dikelola.
-
-
Template dan pencarian cepat
Penulis membuat template dari awal—misalnya template untuk:-
Outline artikel
-
Catatan meeting
-
Log harian
Saat dibutuhkan, template tinggal dipanggil. Fitur pencariannya juga sangat cepat, dan penulis bisa memfilter berdasarkan tag atau nama file ketika mencari sesuatu yang spesifik.
-
Slack: Tidak Perlu Menunggu Balasan Email Berjam-jam

Untuk urusan komunikasi kerja, penulis mengandalkan Slack. Dibanding email, Slack jauh lebih efisien untuk:
-
Bertanya cepat ke editor
-
Mengklarifikasi detail proyek
-
Koordinasi dengan tim tanpa harus menulis email panjang
Channel, Notifikasi, dan Etika Komunikasi
Salah satu kekuatan Slack adalah sistem channel. Penulis bisa memisahkan percakapan berdasarkan:
-
Nama proyek
-
Klien tertentu
-
Topik diskusi (misalnya #editing, #jadwal, #ide-konten)
Dengan begitu, penulis tidak perlu menggali ratusan email untuk mencari satu informasi kecil.
Pengaturan notifikasi juga sangat membantu untuk menjaga fokus:
-
Saat deep work, penulis mute beberapa channel
-
Notifikasi hanya aktif untuk direct message atau mention langsung
Slack memang terlihat sederhana, tapi supaya benar-benar efektif, penulis menerapkan beberapa “aturan” pribadi:
-
Pesan dibuat singkat dan jelas
-
Untuk diskusi panjang, penulis pakai thread, bukan spam di main channel
-
Menghindari mengirim banyak pesan satu baris (“chatty style”) yang memecah perhatian
Kebiasaan ini membuat Slack nyaman dipakai bukan hanya oleh penulis, tetapi juga semua orang di workspace.
Claude: AI yang Lebih Berguna Saat Terhubung dengan Workflow

Penulis mengintegrasikan Claude ke beberapa aplikasi kerja utama: Gmail, Google Calendar, dan Google Drive. Dengan setup seperti ini, penulis bisa:
-
Meminta Claude mencari file tertentu
-
Mengecek jadwal tanpa berpindah tab
-
Menarik informasi dari email lama secara cepat
Ringkasan Email yang Menghemat Banyak Waktu
Fitur yang paling membantu penulis adalah ringkasan email otomatis. Setiap pagi, Claude:
-
Menarik poin-poin penting dari inbox
-
Menyorot undangan meeting
-
Menandai perubahan deadline
-
Menampilkan pertanyaan yang perlu segera dibalas
Alih-alih membuka email satu per satu, penulis mendapatkan ringkasan singkat yang memangkas waktu review inbox hampir setengahnya.
Riset Cepat Tanpa Tenggelam di Tab Browser
Selain urusan email, penulis juga menggunakan Claude untuk:
-
Memahami konsep teknis yang rumit
-
Mencari rujukan awal untuk topik baru
-
Menyusun gambaran kasar sebelum riset mendalam
Tentu saja, penulis tetap melakukan verifikasi manual, tapi keberadaan Claude membantu mempercepat fase riset awal sehingga penulis bisa lebih cepat masuk ke fase penulisan.
Ada beberapa alasan kenapa penulis lebih menyukai Claude dibanding ChatGPT, namun dua yang utama adalah:
-
Cara Claude menangani thread percakapan yang terasa lebih selaras dengan workflow penulis
Pomodoro Timer Fisik: Menjauhkan Ponsel, Menjaga Fokus

Untuk menjaga fokus, penulis mengandalkan timer Pomodoro fisik, bukan aplikasi di ponsel. Alasannya sederhana: begitu ponsel ada di dekat tangan, godaan untuk cek notifikasi atau membuka media sosial hampir selalu muncul.
Bahkan saat menggunakan timer di komputer, penulis masih sering terdistraksi oleh tab lain. Karena itu, timer fisik terasa jauh lebih efektif.
Kenapa Teknik Pomodoro Cocok untuk Hari Kerja Panjang
Teknik Pomodoro membagi waktu kerja menjadi:
-
25 menit fokus total
-
5 menit istirahat singkat
Bagi penulis, pola ini lebih realistis dibanding memaksa fokus berjam-jam tanpa jeda. Setelah satu sesi selesai, penulis bisa berhenti sejenak tanpa rasa bersalah, sehingga kelelahan mental di hari-hari panjang bisa dikurangi.
TK3 Pomodoro Timer: Andalan di Atas Meja Kerja
Di meja kerja, penulis menggunakan TK3 Pomodoro Timer. Kelebihannya:
-
Sudah memiliki preset siklus Pomodoro (25 menit kerja, 5 menit istirahat)
-
Secara default menjalankan 4 putaran otomatis
-
Menggunakan gyroscope: cukup dibalik untuk memulai timer
Fitur favorit penulis adalah fungsi pause. Kalau ada gangguan kecil seperti:
-
Menjawab pertanyaan singkat
-
Menerima telepon sebentar
penulis cukup memutar timer sehingga layar menghadap ke atas untuk pause, lalu memutarnya kembali untuk melanjutkan. Ini membuat sesi fokus tetap terjaga meski ada interupsi di tengah-tengah.
Ticktime Pomodoro Timer: Teman Kerja Mobile
Saat bekerja jauh dari meja—misalnya di kafe atau ruang kerja bersama—penulis membawa Ticktime Pomodoro Timer yang ukurannya lebih kecil. Keunggulannya:
-
Cukup kecil untuk masuk ke saku
-
Bagian belakangnya magnet, jadi bisa ditempel di permukaan logam
-
Masih menggunakan gyroscope: tinggal dibalik ke interval yang diinginkan dan timer langsung berjalan
Baik TK3 maupun Ticktime menawarkan tiga mode notifikasi:
-
Bunyi (sound)
-
Getar (vibration)
-
Silent
Penulis memilih mode vibration saat bekerja di kafe, dan mode silent saat sedang video call agar tidak mengganggu. Keduanya menggunakan baterai isi ulang dengan daya tahan beberapa hari, jadi penulis jarang sekali harus mencari kabel charger di tengah sesi kerja.
Istirahat Sama Pentingnya dengan Fokus
Satu hal yang sering dilupakan: istirahat di antara sesi Pomodoro sama pentingnya dengan waktu fokus. Penulis menggunakan jeda 5 menit untuk:
-
Berdiri dan meregangkan badan
-
Menjauh sebentar dari layar
-
Mengambil minum atau sekadar mengatur napas
Kebiasaan kecil ini membuat penulis tidak merasa “tumbang” setelah beberapa jam menulis atau mengerjakan proyek intensif.
Tetap Terorganisir Tanpa Membuat Hidup Terlalu Rumit
Kelima alat ini bekerja bersama tanpa menciptakan kerja ekstra:
-
Google Calendar menjaga jadwal tetap terlihat dan terstruktur
-
Obsidian menyimpan semua catatan dan referensi yang sering diakses
-
Slack mengelola komunikasi cepat tanpa menenggelamkan Anda di laut email
-
Claude menarik informasi dari aplikasi kerja yang terhubung dan membantu merangkum yang penting
-
Timer Pomodoro fisik menjaga fokus tanpa mengandalkan ponsel
Anda tidak harus menggunakan semua alat ini sekaligus untuk tetap terorganisir. Mulailah dari masalah terbesar yang sering Anda alami:
-
Jika sering terlambat atau lupa jadwal? Perbaiki dulu sistem kalender.
-
Jika informasi berserakan di mana-mana? Bangun satu tempat sentral untuk catatan.
-
Jika email terasa menumpuk? Pertimbangkan bantuan AI untuk ringkasan.
Tujuan akhirnya bukan memakai semua alat produktivitas yang ada, tetapi menemukan beberapa yang benar-benar mengurangi “gesekan” dalam workflow Anda—baik Anda seorang karyawan kantoran, ASN, guru, atau freelancer yang bekerja dari rumah.
Disadur dan diterjemahkan secara bebas dari artikel: Yasir Mahmood, “These 5 productivity tools keep me organized while working from home” (MakeUseOf, 14 November 2025).
Butuh Bantuan Menyusun Sistem Kerja dari Rumah yang Lebih Rapi?
Kalau setelah membaca artikel ini kamu merasa, “Iya sih, alatnya banyak… tapi bingung mulai dari mana,” kamu tidak sendirian. Banyak karyawan, ASN, guru, dan pemilik usaha kecil yang sudah pakai Google Calendar, aplikasi catatan, sampai timer Pomodoro—tapi workflow-nya tetap terasa berantakan.
Di sinilah Rizal IT Consulting bisa membantu.
Bukan sekadar “memperkenalkan tools”, tapi mendampingi kamu:
-
Memetakan dulu alur kerja harianmu (realistis, sesuai ritme hidup di Indonesia)
-
Memilih alat yang benar-benar relevan (bukan sekadar ikut tren)
-
Menyusun sistem sederhana: dari kalender, manajemen tugas, hingga automasi ringan
-
Melatih kamu dan tim supaya nyaman menggunakan sistem baru tanpa merasa “ribet”
Bayangkan punya setup kerja dari rumah yang lebih tenang: jadwal rapi, tugas tidak lagi numpuk di kepala, komunikasi tim lebih tertata, dan kamu punya ruang bernapas untuk fokus ke kerja berkualitas—bukan sekadar firefighting setiap hari.
Kalau kamu ingin diskusi santai dulu tentang kondisi kerjamu sekarang, silakan hubungi:
Rizal IT Consulting
Email:
WhatsApp: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207
Operasional: Sabtu – Kamis, 08.00 – 17.30 WIB
Layanan tersedia online untuk seluruh Indonesia
Satu percakapan bisa jadi langkah awal menuju sistem kerja yang lebih teratur dan hidup yang lebih lega.
Blog ini didukung oleh pembaca. Rizal IT Consulting dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda bertransaksi di tautan yang ditampilkan di situs ini. Ikuti kami juga di Google News Publisher untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru. Info lanjut, kolaborasi, sponsorship dan promosi, ataupun kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207 | .