Skip to main content
01 Desember 2025
# Topik
Ayo Terhubung

Cara Mendeteksi Tulisan AI dengan Tips Praktis untuk Pengajar

01 Desember 2025
 

Artificial intelligence (AI) sekarang ada di mana-mana. Tools seperti ChatGPT membuat kita bisa menulis email, menyusun rencana makan, bahkan merancang materi ajar hanya dalam hitungan detik. Di sisi lain, AI juga sudah “masuk” ke sekolah dan kampus: ada siswa yang memakai AI untuk menulis tugas, esai, atau laporan — tanpa benar-benar belajar proses berpikirnya.

Sebagai profesor komunikasi strategis, penulis aslinya bercerita bahwa ia secara rutin menemukan tugas yang ditulis dengan bantuan AI seperti ChatGPT, Grammarly, dan EssayGenius. Biasanya, cukup mudah menebak kapan sebuah tugas “ditulis robot” dari awal sampai akhir.

Beberapa ciri yang sering muncul:

  • Bahasanya sangat umum dan terlalu luas, seolah-olah ingin menyenangkan semua orang.

  • Teksnya terasa seperti mengulang bunyi soal atau instruksi tugas.

Untuk Anda para guru, dosen, dan pembimbing skripsi, memahami cara mendeteksi tulisan AI adalah skill baru yang makin penting — sama pentingnya dengan memahami plagiarisme klasik.

DAFTAR ISI

Ciri-ciri Tulisan yang Kemungkinan Dibuat oleh AI

Berikut beberapa tanda yang sering muncul ketika sebuah teks ditulis (atau kuat dibantu) oleh AI:

  • Istilah kunci dari soal diulang berkali-kali.
    Misalnya, kalau soal tugas berbunyi, “Dalam 300 kata, jelaskan bagaimana analisis SWOT dan brand audit akan memengaruhi final pitch Anda,” maka jawaban AI cenderung:

    • Mengulang kata “analisis SWOT”, “brand audit”, dan “final pitch” di hampir setiap paragraf.

    • Terasa seperti teks SEO jadul yang hanya mengulang keyword ketimbang esai reflektif yang menunjukkan pemahaman.Fakta yang disampaikan tidak akurat atau melenceng.
      Ini efek dari “hallucination” AI: chatbot bisa memproduksi informasi yang terdengar meyakinkan, tapi salah secara faktual (misalnya, salah tahun, salah nama peneliti, salah definisi teori).

  • Kalimat tidak terdengar natural.
    Struktur kalimatnya rapi, tapi:

    • Terlalu formal untuk gaya bahasa mahasiswa yang Anda kenal.

    • Memakai istilah teknis yang biasanya tidak mereka gunakan di kelas.

  • Penjelasan generik dan berputar-putar.
    Tulisan panjang, tetapi:

    • Tidak betul-betul menjawab soal,

    • Mengulang ide yang sama dengan kata berbeda,

    • Tidak ada contoh konkret dari konteks Indonesia, kampus, atau pengalaman pribadi.

  • Nada tulisan tidak mirip gaya mereka biasanya.
    Jika Anda sudah pernah membaca tugas sebelumnya, mudah terasa bahwa teks ini seperti ditulis “orang lain”:

    • Tiba-tiba jauh lebih rapi,

    • Tidak ada salah tik atau kebiasaan unik mereka,

    • Gaya bahasanya seperti brosur marketing internasional.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa bisa saja menyalin pertanyaan tugas dan menempelkannya ke ChatGPT — sebuah chatbot AI berbasis large language model (LLM) yang menjawab dengan format tanya jawab percakapan. Hanya dengan itu saja, mereka bisa mendapatkan jawaban esai singkat siap setor.

Penulis asli artikel ini menyebut bahwa ia beberapa kali menerima jawaban yang sangat mirip dengan output ChatGPT untuk prompt:

“In 300 words or fewer, explain how this SWAT and brand audit will inform your final pitch.”

Salah satu red flag terbesar: jumlah pengulangan istilah penting dari soal yang berlebihan di hasil akhir.

Mahasiswa biasanya tidak mengulang istilah soal sedisiplin itu. Tulisan mereka cenderung lebih “loncat-loncat”, spontan, dan banyak parafrase. Sementara teks AI sering terasa seperti naskah definisi istilah, mirip artikel SEO definisi SWOT dan brand audit alih-alih esai reflektif yang menunjukkan pemahaman materi.

Lalu pertanyaannya: apakah guru boleh (dan sebaiknya) juga memakai AI untuk mendeteksi kecurangan AI? Penulis artikel ini mencoba beberapa cara agar pendidik bisa lebih cerdas dalam membaca jejak AI di tugas siswa.


Cara Menangkap “Cheater” yang Menggunakan AI

Berikut beberapa strategi praktis yang bisa Anda lakukan — bukan hanya mengandalkan insting, tetapi juga memanfaatkan AI sebagai alat bantu.

1. Pahami Dulu Kemampuan AI

Saat ini ada banyak tools AI yang bisa:

  • Memindai instruksi tugas dan rubrik penilaian,

  • Lalu menghasilkan tugas lengkap, rapi, dan berbasis sitasi hanya dalam beberapa menit.

Beberapa di antaranya:

  • ChatGPT untuk menyusun esai, outline, dan jawaban singkat.

  • GPTZero dan Smodin yang dikenal sebagai alat pendeteksi AI (meski tentu tidak 100% akurat).

Mengenali dan mencoba sendiri tools seperti ini adalah langkah pertama untuk menjaga integritas akademik di era AI. Semakin Anda nyaman dengan teknologi ini, semakin mudah Anda merasa, “Ah, ini gaya ChatGPT banget.”


2. Lakukan Apa yang Dilakukan Para “Cheater”

Sebelum semester dimulai, Anda bisa membuat semacam “database contoh jawaban AI” khusus untuk mata kuliah Anda:

  1. Salin semua instruksi tugas (misalnya dari RPS, LMS, atau modul).

  2. Tempelkan ke ChatGPT atau tools serupa.

  3. Minta AI mengerjakan tugas tersebut dengan format yang sama seperti ketentuan Anda (jumlah kata, jenis esai, dsb.).

Hasilnya bisa Anda simpan sebagai:

  • “Contoh jawaban AI untuk Tugas 1”,

  • “Contoh jawaban AI untuk UTS”, dan seterusnya.

Dengan begitu, saat menilai, Anda bisa membandingkan:

  • Apakah gaya dan struktur jawaban mahasiswa ini sangat mirip dengan “bank jawaban AI” yang Anda punya?

  • Apakah ia memuat pola yang sama: pembukaan generik, tiga paragraf tematik, penutup klise?

Anda juga bisa menggunakan tool yang memang dirancang untuk mendeteksi tulisan AI, namun sebaiknya itu dijadikan bahan pertimbangan tambahan, bukan satu-satunya bukti.

3. Kumpulkan Contoh Tulisan Asli Siswa

Di awal semester, buat satu tugas kecil yang:

  • Ringan,

  • Personal,

  • Tidak terlalu mudah dikerjakan oleh AI tanpa terasa “dingin”.

Misalnya:

  • “Tuliskan 200 kata tentang mainan favoritmu saat kecil.”

  • “Ceritakan pengalaman paling seru yang pernah kamu alami.”

Tujuannya adalah untuk mengumpulkan “sample handwriting digital” — yaitu gaya tulis asli mereka:

  • Bagaimana mereka membuka paragraf,

  • Seberapa sering mereka typo,

  • Seberapa kompleks struktur kalimat mereka,

  • Apakah mereka suka memakai humor, cerita, atau contoh nyata.

Kelak, ketika Anda curiga terhadap satu tugas yang terasa “terlalu sempurna”, Anda bisa:

  • Menggunakan AI (misalnya ChatGPT) untuk membandingkan sample tulisan pribadi itu dengan tugas yang dicurigai,

  • Atau secara manual menilai:

    • Apakah level kedalaman analisisnya tiba-tiba melonjak ekstrem?

    • Apakah gaya bahasanya berubah total dari “ngobrol” menjadi “corporate copy”?

Kumpulan ini bisa menjadi rujukan penting dalam diskusi Anda dengan mahasiswa maupun pimpinan prodi ketika membahas indikasi kecurangan akademik.


4. Minta Mereka Menulis Ulang

Jika Anda mencurigai sebuah tugas ditulis dengan bantuan AI, salah satu langkah praktis adalah:

  1. Ambil teks tugas yang dikumpulkan mahasiswa.

  2. Masukkan ke tool AI (misalnya ChatGPT).

  3. Minta AI untuk “rewrite this text” atau “tulis ulang dengan gaya berbeda”.

Dalam banyak kasus yang dialami penulis artikel, AI akan:

  • Menulis ulang karyanya sendiri dengan cara yang sangat malas,

  • Hanya mengganti kata-kata dengan sinonim,

  • Tanpa mengubah struktur dan alur berpikirnya secara signifikan.

aicheatingpromptrewriteanswer

Contoh skemanya kira-kira seperti ini:

AI menghasilkan esai pertama.
Anda curiga.
Lalu Anda masukkan esai tersebut ke AI dan minta “rewrite”.
aicheatingbiorewriteHasil rewrite terasa identik secara struktur, hanya beberapa kata yang diganti.

 

Penulis artikel kemudian membandingkan ini dengan teks yang ia tulis sendiri, misalnya bio dirinya di CNET. Ketika bio tersebut diminta untuk ditulis ulang oleh AI:

  • Susunan kalimat berubah,

  • Banyak “jiwa” dan gaya personal yang hilang,

  • Diganti dengan kalimat yang memang lebih jelas dan lurus, tapi tidak lagi terasa personal.

Ini menunjukkan pola:

  • AI cenderung melakukan parafrase dangkal: ganti kata, pertahankan struktur.

  • Teks manusia (apalagi yang sangat personal) cenderung memiliki ritme, emosi, dan detail spesifik yang sulit ditiru sempurna.

Apakah Kita Selalu Bisa Mengetahui Kalau Teks Ditulis AI?

Jawabannya: tidak selalu.

AI terus berkembang, dan mahasiswa juga makin kreatif menggabungkan:

  • Draft AI,

  • Edit manual,

  • Tambahan contoh pribadi,

Sehingga jejak AI bisa makin samar.

Namun, untuk Anda yang berperan sebagai pendidik, ada beberapa prinsip penting:

  • Kumpulkan bukti yang wajar dan masuk akal.
    Jika Anda mencurigai penggunaan AI, pastikan Anda punya:

    • Perbandingan dengan contoh tulisan asli,

    • Indikasi gaya yang berubah drastis,

    • Mungkin hasil screening dari alat pendeteksi AI (sebagai data pendukung).

  • Jaga mindset kritis saat menilai.
    Bukan berarti mencurigai semua tulisan sebagai hasil AI, tetapi:

    • Peka terhadap pola bahasa yang tidak konsisten dengan kemampuan penulis,

    • Tahu kapan harus bertanya, “Mindset dan proses berpikir kamu di bagian ini bagaimana?”

  • Tunjukkan bahwa Anda menguasai dan memahami tools ini.
    Semakin Anda nyaman menggunakan AI, semakin kuat posisi Anda ketika menjelaskan ke mahasiswa maupun pihak administrasi:

    • Mengapa Anda curiga,

    • Dari mana indikasinya,

    • Langkah apa yang sudah Anda lakukan untuk memastikan keadilan.

Pada akhirnya, tujuan kita bukan hanya menangkap “cheater”, tapi membangun budaya di mana:

  • Belajar terasa lebih menarik daripada sekadar “menyerahkan tugas yang kelihatan keren”.

  • Mahasiswa paham bahwa AI bisa menjadi partner belajar, bukan hanya “robot penulis tugas”.

Selamat berjuang di frontier baru dunia pendidikan ini, para guru dan dosen.
Jangan tersinggung ketika ada mahasiswa yang menyerahkan tugas karya “robot”. Justru di situ tantangan kita: membuat proses belajar terasa lebih berharga daripada sekadar hasil akhir.


Atribusi

Artikel ini diadaptasi dan dikembangkan dari tulisan Rachel Kane, How to detect AI writing using these tips, dipublikasikan di CNET pada 21 Oktober 2025.

Butuh Pendampingan Menghadapi “Era AI” di Kelas Anda?

Kalau setelah membaca panduan ini Anda mulai berpikir, “Oke, saya sudah paham ciri-cirinya… tapi bagaimana mengatur semuanya di kelas dan kampus saya?” — di sinilah pendampingan profesional bisa menghemat banyak waktu dan energi Anda.

Rizal IT Consulting membantu sekolah, madrasah, dan kampus menyusun strategi yang lebih rapi dalam menghadapi AI: bukan sekadar “melarang ChatGPT”, tapi membangun sistem yang mendorong kejujuran sekaligus tetap memanfaatkan AI sebagai alat belajar.

Beberapa hal yang bisa kami bantu:

  • Review format tugas dan rubrik penilaian agar tidak mudah “dikerjakan robot”.

  • Menyusun panduan pemanfaatan AI yang realistis untuk guru, dosen, dan mahasiswa.

  • Workshop/lokakarya untuk meningkatkan literasi AI dan cara membaca “jejak AI” di tugas.

  • Diskusi strategis dengan pimpinan sekolah/kampus tentang kebijakan AI dan integritas akademik.

Pendekatannya praktis, kontekstual dengan realitas kelas di Indonesia, dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan institusi Anda — mulai dari skala satu kelas, satu prodi, hingga satu sekolah/kampus.

Jika Anda ingin menjadikan AI sebagai mitra belajar yang sehat, bukan sumber masalah baru, silakan hubungi:

Rizal IT Consulting
Email:
WhatsApp: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207
Operasional: Sabtu–Kamis, 08.00–17.30 WIB
Layanan tersedia online untuk seluruh Indonesia. 

Blog ini didukung oleh pembaca. Rizal IT Consulting dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda bertransaksi di tautan yang ditampilkan di situs ini. Ikuti kami juga di Google News Publisher untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru. Info lanjut, kolaborasi, sponsorship dan promosi, ataupun kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207 | .

 

✓ Link berhasil disalin!
Foto Rizal Consulting
Full-time Freelancer
🗓️ Sejak 2006 💻 Sabtu - Kamis ⏰ 08-17 WIB ☎️ 0813-8229-7207 📧