8 Bahasa Pemrograman Lama yang Masih Dipakai Hari Ini
Bahasa pemrograman “baru” memang sering menyedot semua sorotan. Tapi realitas di lapangan—di ruang server, di sistem core bisnis, di perangkat embedded, bahkan di laptop developer yang tiap hari dipakai kerja—ceritanya jauh lebih kompleks.
Revolusi komputer dari dulu memang digerakkan oleh “yang baru” dan “yang berikutnya.” Para hype-mongers membiasakan kita percaya bahwa iterasi terbaru pasti jadi lompatan besar berikutnya. Namun, makin ke sini, makin banyak orang yang diam-diam turun dari hype train. Di indeks popularitas bahasa, bahasa “senior” seperti C, C++, Visual Basic, Fortran, sampai Perl, sering muncul lagi di posisi yang tidak bisa dianggap remeh. Lihat saja daftar terbaru di TIOBE Programming Community Index—bahkan di Januari 2026, Visual Basic dan Delphi/Object Pascal masih nongol di jajaran atas, sementara Fortran dan Perl juga ikut meramaikan papan skor.
Dan ini bukan sekadar tren nostalgia seperti kacamata jadul atau gaya pakaian yang balik lagi. Ada alasan teknis yang sangat masuk akal kenapa bahasa “lama” sering jadi pilihan terbaik.
-
Menulis ulang (rewrite) sistem lama ke bahasa baru itu mahal—dan sering menambah bug lebih banyak daripada memperbaiki.
-
Logika software itu tidak “berkarat.” Kode yang sudah bertahun-tahun diuji (dan “dipukul” oleh kondisi nyata) punya nilai yang sulit ditukar dengan janji manis syntactic sugar.
-
Startup hipster mungkin tertawa… tapi mereka juga bisa menghabiskan seed round dalam beberapa kuartal. Sementara perusahaan besar (megacorps) tetap panen “dividends” dari tumpukan kode legacy yang stabil.
Kabar baiknya: bertahan dengan bahasa lama bukan berarti anti-modern. Banyak bahasa senior yang terus “diperbarui”—menambahkan fitur modern, mulai dari object-oriented sampai dukungan concurrency yang lebih aman. Intinya, kita bisa tetap menjaga “dusty decks” tetap jalan, sambil mengganti terminal punch-card dengan IDE modern dan workflow yang jauh lebih nyaman.
Di bawah ini delapan bahasa “lama” yang masih bekerja keras di parit-parit software modern—plus konteks praktisnya untuk pembaca Indonesia.
COBOL
Kalau ada satu bahasa yang “kelihatannya harusnya sudah pensiun,” COBOL adalah kandidat utamanya—tapi faktanya dia masih hidup di banyak perusahaan mapan. Bank, asuransi, dan organisasi besar masih mengandalkan COBOL untuk banyak business logic inti.
Yang sering tidak disadari: COBOL bukan fosil yang berhenti berkembang. Standarnya terus diperbarui—misalnya pembaruan COBOL modern yang tetap relevan dengan kebutuhan transaksi dan integrasi sistem saat ini. Di ranah standar, pembaruan COBOL juga dibahas dalam konteks ISO/IEC (misalnya COBOL edisi 2023).
Untuk tooling, COBOL juga tidak melulu “layar hitam.” Anda bisa menemukan compiler open source seperti GnuCOBOL yang membawa COBOL ke ekosistem modern. Selain itu, ada lingkungan kerja dan IDE yang memudahkan developer memeriksa dialek sintaks COBOL yang berbeda, seperti Rocket Visual COBOL dan isCOBOL IDE.
COBOL biasanya unggul untuk:
-
Sistem core transaksi yang mission-critical (perbankan, asuransi, billing).
-
Kode bisnis yang sudah stabil, rumusannya jelas, dan telah diuji puluhan tahun.
-
Organisasi yang prioritasnya: stabilitas, auditability, dan perubahan yang terkendali.
Kalau Anda bekerja di institusi yang punya sistem lama, kemampuan membaca COBOL bukan “ilmu museum”—itu skill bernilai tinggi, apalagi jika dikombinasikan dengan kemampuan modernisasi (API, integrasi database, observability).
Perl
Di banyak pekerjaan “lem perekat” sistem (system glue code), Perl dulu raja. Sekarang Python memang lebih dominan di banyak area, tapi masih ada komunitas yang merasa Perl itu lebih ringkas, lebih “tajam,” dan lebih kuat untuk tugas tertentu—Python dianggap “terlalu cerewet/wordy.”
Salah satu senjata utama Perl adalah ekosistem modulnya: CPAN (Comprehensive Perl Archive Network)—sering disebut punya lebih dari 220.000 modul, sehingga banyak pekerjaan umum bisa jadi cepat.
Menariknya, Perl juga sempat “naik daun” lagi di indeks popularitas. InfoWorld mencatat Perl sempat mencapai posisi 10 pada September 2025, dan konteksnya memang sering terkait cara perhitungan indeks yang memakai sinyal seperti minat pencarian dan referensi produk/buku.
Perl biasanya unggul untuk:
-
Otomasi, skrip cepat, dan pekerjaan teks/regex yang kompleks.
-
Pipeline data sederhana, log parsing, dan tugas administrasi sistem yang “sekali jadi, jalan terus.”
-
Tim yang punya basis kode Perl legacy (dan butuh orang yang bisa pegang + rapikan tanpa merusak).
Kalau Anda sedang membangun workflow bisnis kecil-menengah, sering kali kebutuhan Anda bukan microservices megah—melainkan skrip andal yang “beresin masalah” dengan cepat. Ini nyambung juga dengan tema tools gratis untuk data management di blog Anda.
Ada
Ada lahir dari ambisi besar: di era 1970-an, Departemen Pertahanan AS ingin satu standar bahasa untuk menyatukan proyek software mereka yang besar dan beragam. Di pasar umum, Ada tidak pernah jadi “bahasa anak gaul,” tetapi di dunia pertahanan dan sistem kritikal, Ada punya tempat istimewa—karena reputasinya soal safety dan reliability.
Ada juga terus berevolusi. Ada 2022, misalnya, didokumentasikan dalam Ada 2022 Reference Manual dan terkait dengan standar ISO/IEC 8652:2023.
Ada biasanya unggul untuk:
-
Sistem safety-critical (avionik, pertahanan, kontrol industri tertentu).
-
Proyek yang mengutamakan correctness, constraint yang ketat, dan minim bug.
-
Sistem yang butuh maintainability jangka panjang, bukan sekadar “cepat jadi.”
Buat konteks Indonesia: kita mungkin tidak banyak menemui Ada di proyek harian UMKM, tapi Ada relevan sebagai referensi “cara berpikir” untuk software yang nggak boleh salah. Kalau Anda menulis soal ancaman keamanan online 2025, mindset seperti ini nyambung: lebih baik sedikit lebih ketat daripada menanggung risiko besar.
Fortran
Fortran adalah legenda. Ia berakar dari upaya menulis komputasi ilmiah secara lebih “natural” dibanding machine code—dan sampai hari ini, Fortran masih kuat di bidang yang harus menghajar angka besar: simulasi, komputasi sains, cuaca, dinamika fluida, dan sejenisnya.
Versi modern Fortran juga membawa fitur yang makin “beradab”—misalnya pengayaan modul dan submodules yang dibahas dalam dokumen Fortran 2008.
Dari sisi toolchain, Fortran tetap hidup lewat compiler seperti gfortran, yang merupakan bagian dari GCC; dokumentasinya dibahas di GNU Fortran and GCC.
Fortran biasanya unggul untuk:
-
Komputasi numerik performa tinggi (HPC).
-
Kode ilmiah lama yang sudah tervalidasi (dan “kebenarannya” penting).
-
Tim riset yang butuh stabilitas dan performa, bukan sekadar tren.
Jika Anda mengelola konten edukasi teknologi, Fortran bisa jadi contoh bagus: “bahasa lama” tidak mati kalau domainnya masih membutuhkan.
C, C++, dan keluarga “C-like”
C mungkin tidak selalu tampil sebagai “nomor satu” jika dihitung sebagai satu entitas, karena para pemujanya tersebar: C, C++, C#, Objective-C—belum lagi Java yang sintaksnya terasa “serupa” untuk sebagian orang. Namun kalau daftar ini bicara tentang bahasa yang “tidak mau pensiun,” sintaks C jelas menang: dia berlayar terus, jadi pondasi banyak hal.
Di dunia embedded, OS, driver, networking stack, dan banyak library performa tinggi, C/C++ adalah roti harian. Bahkan diskusi di TIOBE menyinggung bahwa C tetap kuat karena sederhana, cepat, dan cocok untuk embedded.
Untuk Objective-C, Apple sendiri menjelaskan bahwa Objective-C adalah superset dari C dan menambahkan kemampuan object-oriented serta runtime dinamis—ini membantu menjelaskan kenapa ekosistem Apple “lama” begitu lekat dengan Objective-C.
Keluarga C biasanya unggul untuk:
-
Performa, kontrol memori, dan sistem-level work.
-
Embedded/IoT, komponen OS, tooling, database engine, dan library yang harus cepat.
-
Proyek yang butuh interoperabilitas luas (karena ekosistem C sudah ada di mana-mana).
Kalau Anda punya pembaca “pengguna browser internet” yang penasaran kenapa banyak aplikasi terasa “cepat,” sering kali ada C/C++ di bawah kapnya—entah di mesin rendering, codec video, atau library kriptografi. Ini nyambung dengan topik Incognito tidak cukup hapus jejak browsing dan privasi: performa + keamanan sering bertemu di lapisan bawah yang banyak ditulis dalam C/C++.
Visual Basic
BASIC awalnya dibuat untuk mengajarkan konsep seperti for loop dan GOSUB. Lalu Microsoft melihat peluang besar: bisnis tidak selalu butuh aplikasi raksasa dengan ribuan kelas dan puluhan microservices—mereka butuh cara cepat menambahkan logika bisnis ke workflow sehari-hari.
Itulah kenapa Visual Basic (dan turunannya, termasuk ekosistem VB di .NET atau VBA di Office) masih “berguna sekali” di dunia nyata: otomasi, pembersihan data, proses administratif, dan aplikasi internal yang pragmatis.
Secara dokumentasi, Microsoft masih menyediakan portal resmi Visual Basic di Microsoft Learn. Dan kalau melihat popularitas, Visual Basic masih muncul di posisi tinggi pada TIOBE Index (misalnya Januari 2026).
Visual Basic biasanya unggul untuk:
-
Otomasi proses kantor (terutama ekosistem Microsoft).
-
Skrip dan aplikasi internal yang “cepat jadi, langsung kepakai.”
-
Tim non-Computer-Science yang butuh bahasa yang relatif mudah dibaca.
Untuk konteks Indonesia: banyak UMKM dan instansi masih hidup di Excel. Maka VB/VBA sering jadi “jalan tengah” antara kerja manual dan sistem besar. Ini bisa inline dengan artikel Anda tentang fungsi UNIQUE Excel: saat formula mentok, skrip sederhana bisa jadi penolong.
Pascal
Pascal dibuat sebagai bahasa pengajaran yang rapi dan terstruktur. Ia pernah jadi “bahasa favorit” banyak orang—dan sampai sekarang, ia bertahan dalam berbagai implementasi, baik open source maupun komersial.
Salah satu yang paling menonjol adalah Delphi/Object Pascal. Bahkan hari ini, Embarcadero masih memasarkan Delphi sebagai cara cepat membangun aplikasi lintas platform. Di halaman resminya, Anda bisa melihat slogan “Build Apps 5x Faster” pada edisi produk Delphi. Selain itu, Delphi juga dijelaskan sebagai IDE untuk membuat aplikasi native lintas platform (Windows, macOS, iOS, Android, Linux) di halaman produk Delphi.
Di sisi open source, Free Pascal juga aktif sebagai compiler Pascal modern.
Pascal/Delphi biasanya unggul untuk:
-
Aplikasi desktop yang butuh cepat dikembangkan (RAD-style).
-
Proyek yang sudah punya basis kode Delphi/Pascal dan tetap bernilai bisnis.
-
Developer yang ingin produktif membangun UI native tanpa terlalu banyak “ritual build.”
Buat pembaca yang sering kesal karena build cycle panjang (misalnya di proyek web modern), Pascal/Delphi sering terasa seperti “naik motor bebek: simpel, cepat, beres.”
Python
Python ini unik: dibanding COBOL atau Fortran, Python tergolong “muda” (rilis publik awal 1991). Tapi di dunia nyata, banyak developer Python justru dipaksa jadi “penjaga masa lalu,” karena memelihara versi lama dan dependensi lama yang rawan pecah jika dipaksa naik versi.
Di sinilah konsep virtual environment jadi semacam “mesin waktu.” Dokumentasi resmi Python menjelaskan modul venv untuk membuat virtual environments. Dalam tutorial resminya, Python juga memandu cara membuat env untuk mengunci versi dan paket.
Python biasanya unggul untuk:
-
Otomasi, scripting, data work, web, dan prototyping cepat.
-
Proyek yang butuh ekosistem library besar.
-
Tim yang ingin cepat “menghasilkan nilai” tanpa banyak overhead.
Namun di dunia profesional, Python sering berarti: disiplin dependency management. Dan ini relevan untuk pembaca non-developer juga—misalnya saat Anda membahas tool-tool praktis di 50 tools gratis terbaik untuk data management: banyak tool modern “nggak jauh-jauh” dari Python di balik layar.
Cara cepat memilih: kapan “bahasa lama” adalah keputusan cerdas?
Kalau Anda sedang menilai teknologi untuk proyek baru, ini bukan soal “lama vs baru,” tapi soal fit.
Pertimbangkan bahasa senior jika:
-
Anda mewarisi sistem yang sudah jalan dan menghasilkan uang (atau menjalankan layanan penting).
-
Risiko bug lebih mahal daripada biaya “terlihat modern.”
-
Domainnya menuntut stabilitas, audit, dan perubahan yang pelan tapi pasti.
-
Anda perlu tooling dan ekosistem yang sudah matang puluhan tahun.
Pertimbangkan bahasa baru jika:
-
Anda benar-benar membangun dari nol, tanpa beban legacy.
-
Kecepatan iterasi dan rekrutmen developer jadi faktor nomor satu.
-
Anda butuh fitur ekosistem modern tertentu yang belum nyaman di stack lama.
Dan untuk banyak organisasi, jawaban paling realistis adalah hybrid: menjaga “mesin inti” tetap jalan, sambil membangun lapisan integrasi modern (API, dashboard, automation) di sekelilingnya.
Penutup
Tren bisa datang dan pergi, tapi software yang benar-benar dipakai orang punya logika sendiri. Bahasa-bahasa di atas bertahan bukan karena romantisme, melainkan karena use case yang nyata: stabil, cepat, aman, teruji, dan (sering kali) sudah menanggung beban bisnis yang tidak bisa main-main.
Kalau Anda sedang menulis roadmap belajar atau menyusun tim, mungkin pertanyaan yang lebih tajam bukan “bahasa apa yang paling baru?” melainkan:
“Bahasa apa yang paling masuk akal untuk masalah saya hari ini—dan tetap masuk akal lima tahun ke depan?”
Diadaptasi dan diterjemahkan dari artikel InfoWorld — “8 old programming languages developers won’t quit” (Peter Wayner, 22 Desember 2025).
Siap Naik Kelas Tanpa Harus “Bongkar Total” Sistem?
Kalau bahasa-bahasa lawas bisa bertahan puluhan tahun karena stabil dan terbukti, maka aplikasi untuk UMKM dan sekolah juga idealnya begitu: jalan terus, makin rapi, makin hemat waktu—bukan malah ribet tiap kali butuh fitur baru. Banyak proses harian sebenarnya bisa dibuat lebih ringan: pencatatan pembayaran, data siswa, inventaris, absensi, rekap laporan, sampai pengingat otomatis. Masalahnya, ketika semuanya masih manual atau terpencar di banyak file, yang “bocor” biasanya waktu dan fokus—dan error kecil bisa jadi masalah besar.
Kabar baiknya, Anda tidak perlu langsung memakai sistem besar yang mahal atau rumit. Anda bisa mulai dari aplikasi yang sederhana tapi tepat guna, lalu dikembangkan bertahap sesuai kebutuhan—misalnya dashboard admin yang enak dipakai, form online untuk input data, laporan otomatis, dan akses multi-user untuk tim. Hasilnya: pekerjaan lebih cepat, data lebih rapi, dan keputusan jadi lebih percaya diri karena angkanya jelas.
Jika Anda ingin melihat gambaran aplikasinya seperti apa untuk usaha/sekolah Anda, Rizal IT Consulting siap membantu merancang dan membuatnya secara online untuk seluruh Indonesia—dengan pendekatan yang fokus pada manfaat: mengurangi kerja repetitif, meminimalkan kesalahan, dan membuat operasional lebih terukur.
Rizal IT Consulting
Email:
WhatsApp: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207
Operasional: Sabtu – Kamis, 08.00 – 17.30 WIB
Layanan tersedia online untuk seluruh Indonesia.
Blog ini didukung oleh pembaca. Rizal IT Consulting dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda bertransaksi di tautan yang ditampilkan di situs ini. Ikuti kami juga di Google News Publisher untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru. Info lanjut, kolaborasi, sponsorship dan promosi, ataupun kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207 | .