Mengapa Excel adalah software paling sukses yang pernah dibuat
Banyak dari kita yang memakai Excel hampir setiap hari—di kantor, di sekolah, di UMKM, bahkan di rumah. Tapi jarang ada yang benar-benar berhenti sejenak untuk mengakui skala dominasinya.
Excel bukan “sekadar spreadsheet”. Ia adalah fenomena global yang berhasil bertahan melewati hampir semua perubahan besar di dunia teknologi: dari era disket, desktop Windows klasik, internet, cloud, sampai gelombang AI. Dan anehnya, ikon hijau berusia puluhan tahun itu masih setia nongkrong di taskbar kita sampai hari ini.
Pertanyaannya: kenapa?
- Excel adalah “antarmuka” untuk hampir semua hal
- Warisan mesin hitung ulang: fondasi yang membuat Excel terasa “ringan”
- Turing-complete, low-code, dan lahirnya “shadow IT”
- Kompatibilitas mundur: alasan Excel dipercaya untuk jangka panjang
- Budaya dan efek jejaring: Excel bukan cuma alat, tapi ekosistem
- Pivot modern: Excel ikut berevolusi, bukan hidup dari nostalgia
- Sumber rujukan untuk verifikasi
- Ingin Laporan Excel yang Siap Dibawa Rapat?
Excel adalah “antarmuka” untuk hampir semua hal

Microsoft Excel bisa dibilang database “tak sengaja” paling sukses di dunia. Para engineer mungkin menyukai logika relasional yang rapi ala SQL. Tapi kebanyakan manusia—termasuk kita—lebih akrab dengan grid: baris, kolom, sel.
Grid itu seperti kanvas kosong raksasa. Anda bisa menyusun informasi sesuai cara Anda melihat dunia:
-
daftar belanja,
-
rekap absensi,
-
laporan kas harian,
-
daftar inventaris,
-
timeline proyek,
-
sampai model finansial bernilai miliaran.
Dan di sinilah kekuatan Excel terasa sangat “manusiawi”: ia meniru buku besar (ledger) fisik, tapi pada skala digital yang nyaris tak terbatas.
Excel juga sudah menjadi bahasa universal dunia kerja. Bayangkan: seorang mantan CFO yang sudah pensiun dan analis baru lulus kuliah bisa duduk satu ruangan, lalu “ngobrol” dengan lancar lewat satu file XLSX. Anda tidak perlu menyamakan tool, framework, atau platform—cukup buka workbook, dan semua paham konteksnya.
Itulah sebabnya Excel sering disebut Swiss Army knife dalam dunia software. Mungkin bukan alat paling sempurna untuk satu tugas super-spesifik, tapi hampir selalu “cukup bagus” untuk berbagai kebutuhan. Dan saat sesuatu “cukup bagus” sekaligus mudah dipakai, ia menang di kebiasaan sehari-hari.
Kalau Anda pengguna Microsoft 365 yang sering kerja dengan Word, PowerPoint, dan Outlook, Excel biasanya menjadi titik tengah: tempat data mentah dikumpulkan dulu, sebelum dibikin rapi untuk laporan, presentasi, atau keputusan.
Warisan mesin hitung ulang: fondasi yang membuat Excel terasa “ringan”
Di tahun 1980-an, Excel tidak menang “perang spreadsheet” hanya karena menu lebih enak atau tampilannya lebih ramah. Excel menang karena satu ide engineering yang cerdas: intelligent recalculation (perhitungan ulang yang cerdas).
Sebelum itu, aplikasi spreadsheet generasi awal bisa bikin pusing. Mengubah satu angka saja sering memaksa software menghitung ulang semua sel di satu sheet. Lambat, berat, dan membuat pekerjaan terasa seperti menunggu.
Tim Microsoft kemudian memetakan ketergantungan antar-sel: sel mana bergantung pada sel mana. Hasilnya, Excel hanya menghitung ulang nilai yang benar-benar terdampak perubahan Anda—bukan semuanya.
Efeknya terasa sampai sekarang. DNA “performance-first” ini adalah salah satu alasan Excel masih jadi raja. Kompetitor berbasis web sering menampilkan progress “Calculating…” saat workbook makin kompleks. Sementara Excel desktop punya mesin kalkulasi yang memanfaatkan banyak core CPU secara paralel (multithread), membagi beban kerja agar perhitungan lebih cepat.
Excel juga punya konsep sel “kotor” dan “bersih”: mana yang sudah usang karena input berubah, mana yang masih valid. Kedengarannya sederhana, tapi dampaknya besar. Anda bisa mengolah sheet yang besar, rumit, penuh formula, dan tetap merasa responsif—bukan seperti sedang mendorong gerobak penuh semen.
Buat pengguna MS Office, ini momen yang sering terjadi di dunia nyata:
-
Anda punya data panjang (misalnya hasil ekspor sistem absensi atau laporan penjualan).
-
Anda menambah kolom perhitungan.
-
Anda membuat PivotTable.
-
Anda merapikan dengan lookup, filter, dan conditional formatting.
-
Anda mengubah satu angka… dan semuanya ikut menyesuaikan.
Di titik itu, Excel terasa seperti “mesin” yang hidup—bukan sekadar tabel statis.
Bonusnya: Excel memiliki batas ukuran worksheet yang jelas (lebih dari satu juta baris per sheet). Itu membuat banyak orang merasa aman menampung data besar sebelum memutuskan: “Butuh database beneran, atau masih cukup di sini?” Di banyak tim, jawabannya sering: “cukup di sini.”
Turing-complete, low-code, dan lahirnya “shadow IT”

Excel adalah platform low-code paling sukses di dunia—jauh sebelum istilah low-code jadi buzzword.
Dengan formula, tabel, PivotTable, Power Query, sampai fitur seperti LAMBDA, pengguna biasa bisa membangun logika yang tadinya hanya mungkin dibuat oleh programmer. Anda tidak butuh gelar ilmu komputer untuk membuat sistem stok sederhana atau budgeting yang kompleks. Anda butuh rasa penasaran, beberapa rumus, dan (biasanya) satu-dua tab tutorial yang Anda simpan entah dari mana.
Di era modern, Excel bahkan mengakui “sisi pemrogramannya” secara terbuka. Fitur LAMBDA memungkinkan Anda membuat fungsi kustom memakai bahasa formula Excel itu sendiri. Menariknya, pengumuman Microsoft soal LAMBDA juga menyinggung bahwa bahasa formula Excel menjadi Turing complete—yang artinya, secara teori, ia bisa mengekspresikan komputasi umum (dengan batasan praktis seperti waktu, memori, dan kesabaran).
Lalu muncullah fenomena yang dicintai sekaligus ditakuti: shadow IT.
Di banyak organisasi, ada spreadsheet yang diam-diam menjadi tulang punggung proses bisnis:
-
perhitungan insentif,
-
rekonsiliasi data,
-
perencanaan anggaran,
-
forecasting,
-
evaluasi KPI,
-
sampai penentuan keputusan operasional harian.
Masalahnya, spreadsheet itu sering dibangun oleh orang yang paling dekat dengan masalah (akuntan, admin, analis), bukan oleh engineer. Dan karena kebutuhan bisnis menuntut cepat, Excel menjadi jembatan paling praktis antara “pengguna standar” dan “developer”.
IT department bisa saja pusing—karena satu formula salah bisa berdampak besar. Tapi bisnis menyukainya karena Excel memberi agency: orang yang paham konteks bisa langsung membangun solusi tanpa menunggu antrian pengembangan.
Kalau Anda sering membuat workbook yang dipakai ramai-ramai, beberapa kebiasaan kecil ini bisa membuat “Excel buatan manusia” terasa lebih tahan banting:
-
pakai Table (bukan range acak) untuk data utama,
-
beri nama kolom yang jelas,
-
hindari hardcode yang tersebar,
-
simpan logika rumus penting di satu tempat,
-
buat sheet “catatan” untuk asumsi dan definisi,
-
dan rapikan data dari sumbernya (di sinilah Power Query biasanya jadi penyelamat).
Kompatibilitas mundur: alasan Excel dipercaya untuk jangka panjang

Di dunia bisnis, “andal” hampir selalu mengalahkan “wah”.
Salah satu superpower Excel adalah komitmennya pada masa lalu. Anda bisa membuka workbook yang dibuat bertahun-tahun lalu, dan besar kemungkinan tetap jalan di versi Microsoft 365 sekarang—dengan error minimal. Kompatibilitas mundur ini membuat Excel jadi pilihan paling aman untuk infrastruktur kerja jangka panjang.
Sementara software lain kadang mendorong perubahan UI yang ekstrem sampai workflow lama terasa “rusak”, Excel menjaga logika inti yang relatif konsisten. Ini menguntungkan orang yang serius belajar.
Kalau Anda belajar Excel sejak era 90-an atau 2000-an, Anda masih bisa merasa seperti pro hari ini. Di industri yang sering bangga dengan slogan “move fast and break things”, Excel justru menang dengan prinsip sebaliknya: jangan merusak data dan kebiasaan kerja orang.
Itu sebabnya Excel sering menjadi “format final” untuk pertukaran kerja lintas generasi dan lintas perusahaan. File XLSX adalah bahasa diplomatik: hampir semua pihak bisa membuka, membaca, dan menilai.
Budaya dan efek jejaring: Excel bukan cuma alat, tapi ekosistem
Excel sekarang punya budaya sendiri.
Ada influencer Excel. Ada komunitas online yang aktif. Ada template yang diwariskan lintas kantor. Bahkan ada kompetisi seperti Microsoft Excel World Championship yang membuat spreadsheet terasa seperti olahraga mental.
Inilah efek jejaring (network effect) yang tidak mudah ditandingi:
-
Anda belajar Excel karena pekerjaan menuntut.
-
Pekerjaan menuntut Excel karena klien dan vendor memakainya.
-
Klien memakainya karena semua orang sudah punya Excel.
Begitu sebuah tool menjadi “bahasa default” suatu industri, menggantikannya bukan cuma soal fitur. Anda harus mengalahkan puluhan tahun kebiasaan, materi pelatihan, template, standar rekrutmen, dan jam terbang kolektif.
Bahkan kalau ada spreadsheet app yang “lebih baik” rilis besok, ia tetap akan kesulitan menembus benteng itu—karena Excel bukan hanya produk, melainkan jaringan.
Pivot modern: Excel ikut berevolusi, bukan hidup dari nostalgia

Ya, Google Sheets unggul di kolaborasi real-time. Banyak tim menyukai cara kerja berbagi link dan edit bareng tanpa ribet versi. Anda bisa melihat gambaran resminya di halaman Google Sheets.
Dan ya, alternatif open-source seperti LibreOffice Calc tumbuh karena gratis, lebih privat, dan cukup untuk banyak kebutuhan.
Tapi Excel tetap “heavy lifter”. Microsoft tidak berhenti di status legenda. Mereka memutar haluan Excel menjadi tool analitik yang makin serius.
Dua contoh yang paling terasa untuk pengguna MS Office:
Power Query: membuat data berantakan jadi bisa dipakai
Kalau Anda pernah copy-paste data dari CSV, laporan sistem, atau hasil ekspor aplikasi—lalu menghabiskan waktu membersihkan: hapus spasi, ubah format tanggal, pecah kolom, gabung tabel—maka Anda tahu betapa melelahkannya pekerjaan itu.
Power Query (Get & Transform) mengubah proses tersebut menjadi langkah-langkah yang bisa diulang. Sekali Anda “rekam” transformasinya, Anda tinggal refresh saat data baru datang.
Efeknya besar:
-
lebih sedikit pekerjaan manual,
-
lebih kecil risiko salah,
-
lebih mudah diaudit,
-
dan lebih cocok untuk workflow kantor yang berulang.
Python di Excel: jembatan antara fleksibilitas open-source dan kebutuhan korporat
Excel kini juga merangkul Python. Dengan Python in Excel, Anda bisa menulis Python langsung dari sel, menjalankan analisis, dan mengembalikan hasilnya ke worksheet.
Buat banyak orang, ini seperti “dua dunia bertemu”:
-
dunia Excel yang nyaman, familiar, dan mudah dibagi,
-
dunia Python yang kaya untuk analisis, statistik, dan eksplorasi data.
Kalau Anda sudah terbiasa dengan PivotTable, chart, dan formula, hadirnya Python membuat “langit-langit” kemampuan Excel jadi jauh lebih tinggi. Dan tetap, untuk kebutuhan dasar—rekap cepat, tabel, laporan—Excel masih terasa paling cepat untuk mulai.
Pada akhirnya, kesuksesan Excel bukan sekadar soal matematika. Kesuksesan Excel adalah soal fleksibilitas manusia: ia menyesuaikan cara kita bekerja, bukan memaksa kita menyesuaikan diri pada software.
Atribusi sumber tulisan: Artikel ini merupakan adaptasi/terjemahan dari tulisan Tony Phillips di How-To Geek (09 January 2026).
Sumber rujukan untuk verifikasi
-
Batas baris/kolom worksheet Excel: Spesifikasi dan batasan Excel (Microsoft Support).
-
Mekanisme recalculation + konsep dependensi/chain: Excel recalculation (Microsoft Docs).
-
Multithreaded recalculation di Excel: Multithreaded recalculation (Excel).
-
LAMBDA dan klaim Turing complete pada bahasa formula: Announcing LAMBDA (Excel Blog).
-
Power Query (Get & Transform): Power Query di Excel (Microsoft Support).
-
Python di Excel (pengantar resmi): Introduction to Python in Excel (Microsoft Support).
-
Kolaborasi real-time Google Sheets: Collaborate in Sheets (Google Help).
-
Alternatif open-source: LibreOffice Calc (resmi).
Ingin Laporan Excel yang Siap Dibawa Rapat?
Excel sering jadi andalan karena cepat dan familiar. Tapi ketika file sudah dipakai banyak orang, biasanya mulai muncul hal kecil yang mengganggu: angka terasa “berbeda”, format berubah-ubah, dan update laporan makan waktu. Di momen seperti ini, pimpinan justru butuh yang paling sederhana: laporan yang rapi, konsisten, dan enak dibaca—tanpa drama.
Rizal IT Consulting membantu merapikan dan menyiapkan Excel agar lebih nyaman dipakai untuk kebutuhan pimpinan: ringkasan KPI yang jelas, tabel dan grafik yang mudah dipahami, serta proses update yang lebih singkat. Fokusnya bukan membuat Excel jadi rumit, tapi membuat laporan lebih siap dipakai untuk memantau kondisi, menangkap masalah lebih cepat, dan mengambil keputusan dengan tenang.
Jika Anda punya satu file yang paling sering dipakai untuk laporan rutin (mingguan/bulanan), kirim contohnya—boleh disamarkan. Saya bantu lihat bagian mana yang paling cepat dirapikan supaya hasilnya langsung terasa.
Rizal IT Consulting
Email:
WhatsApp: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207
Operasional: Sabtu – Kamis, 08.00 – 17.30 WIB
Layanan tersedia online untuk seluruh Indonesia.
Blog ini didukung oleh pembaca. Rizal IT Consulting dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda bertransaksi di tautan yang ditampilkan di situs ini. Ikuti kami juga di Google News Publisher untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru. Info lanjut, kolaborasi, sponsorship dan promosi, ataupun kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207 | .