Membangun Internet yang Lebih Manusiawi: Masa Depan Sosial Media
Reformasi digital, tata kelola publik, dan literasi digital bukan hanya wacana. Inilah langkah nyata menuju masa depan internet yang lebih sehat dan manusiawi.
- Mengapa Kita Perlu Memikirkan Ulang Platform Digital
- Membangun Ruang Digital yang Beragam
- Teknologi Masa Depan: Desentralisasi yang Manusiawi
- Membayangkan Algoritma yang Bisa Dipilih Pengguna
- Tantangan Platform Terdesentralisasi
- Literasi Digital sebagai Kesehatan Publik
- Perlindungan dan Transparansi
- Masa Depan yang Bisa Kita Pilih
- Penutup
Mengapa Kita Perlu Memikirkan Ulang Platform Digital
Media sosial seperti yang kita kenal saat ini sedang menuju senjakala.
Namun, runtuhnya platform besar tidak berarti akhir dari kehidupan digital — justru ini adalah kesempatan emas untuk membangun ulang internet dari awal, berdasarkan prinsip yang benar-benar berpihak pada manusia.
Uni Eropa sudah memulai langkah awal melalui Digital Markets Act dan Digital Services Act pada 2022.
Namun, kedua regulasi ini masih fokus pada mengawasi platform yang ada, bukan membayangkan model baru yang lebih sehat.
Di Amerika Serikat, upaya reformasi terpecah:
-
Platform Accountability and Transparency Act (PATA) mencoba memberikan pengawasan pada sistem algoritma,
-
Beberapa negara bagian seperti California dan New York mulai membuat aturan yang fokus pada dampak mental health, khususnya pada generasi muda.
Masalahnya, semua ini masih sekadar “tempelan” pada mesin lama.
Yang kita butuhkan adalah ruang digital baru yang dirancang sejak awal dengan insentif yang selaras dengan kepentingan manusia, bukan hanya mengejar keuntungan semata.
Membangun Ruang Digital yang Beragam

Bayangkan jika kita memiliki ekosistem platform yang berbeda fungsi dan tujuan:
-
Platform komunitas lokal untuk diskusi warga dan urusan sipil.
-
Jejaring profesional yang dikelola asosiasi pekerja, bukan korporasi raksasa.
-
Ruang edukasi digital yang dikelola perpustakaan atau lembaga publik.
Setiap ruang ini memiliki tata kelola transparan dan diatur oleh komunitasnya sendiri, bukan oleh segelintir eksekutif di menara gading.
Namun, model publik juga memiliki risiko:
-
Bisa disalahgunakan untuk propaganda politik.
-
Potensi censorship berlebihan.
-
Ancaman monopoli jika tidak diawasi.
Karena itu, tata kelola harus bersifat demokratis, seperti model penyiaran publik di negara-negara demokrasi yang punya charter independen.
Tujuannya bukan menciptakan “Kementerian Kebenaran Digital”,
tetapi membangun utilitas publik pluralistik — platform yang:
-
Dibuat oleh komunitas,
-
Dikelola untuk komunitas,
-
Dengan standar transparansi dan perlindungan hak yang jelas.
Kembangkan aplikasi online lebih cepat dengan bantuan AI—mulai disini Jasa Pembuatan Aplikasi Smartphone (Gawai) Android OS Jasa Renovasi/Perombakan Tampilan Situs Web Dinamis dan Statis Jasa Pembuatan Hingga Kustomasi Aplikasi Berbasis Website Jasa Pengelolaan Website Joomla, Wordpress, Hingga CMS Lainnya
Teknologi Masa Depan: Desentralisasi yang Manusiawi

Beberapa teknologi baru sudah mulai muncul:
-
ActivityPub → dipakai oleh Mastodon dan Threads, memungkinkan jejaring sosial terhubung tanpa pusat tunggal.
-
Bluesky’s AT Protocol → memungkinkan pengguna memindahkan identitas digital dan daftar teman antar platform.
-
Eksperimen berbasis blockchain seperti Lens dan Farcaster.
Namun, protokol saja tidak cukup.
Contoh sederhana: email juga terdesentralisasi, tapi 80% lalu lintas email tetap dikuasai segelintir perusahaan seperti Google dan Microsoft.
Yang dibutuhkan adalah “rewilding the internet” —
internet yang hidup, liar, dan dimiliki bersama, seperti konsep koperasi digital:
-
Sistem identitas yang portable antar platform.
-
Layanan moderasi konten bersama yang bisa dipilih komunitas kecil.
-
Hak tawar kolektif untuk transparansi algoritma dan data.
-
Bagi hasil data untuk semua pengguna, bukan hanya influencer.
-
Opsi memilih algoritma sendiri, bukan dipaksakan oleh platform.
Membayangkan Algoritma yang Bisa Dipilih Pengguna
Bayangkan jika Anda bisa mengatur feed sendiri, seperti memilih playlist musik:
-
Chronological Feed → postingan tampil sesuai urutan waktu.
-
Mutuals-First → hanya menampilkan konten dari orang yang juga mengikuti Anda.
-
Local Context Filter → menonjolkan konten dari wilayah atau bahasa tertentu.
-
Serendipity Engine → memperkenalkan Anda ke konten baru dan beragam.
-
Human-Curated Layer → seperti editorial yang dikurasi manusia, bukan mesin.
Saat ini, sebagian model ini sudah ada, tetapi tidak bisa diakses pengguna secara langsung.
Padahal, hak memilih algoritma seharusnya menjadi hak sipil digital, bukan fitur tersembunyi.
“Bagaimana jika kita memperlakukan platform seperti layanan publik, bukan kasino privat?”
Namun, ada risiko baru:
-
Influencer masa depan mungkin bukan pencipta konten, tapi kurator algoritma.
-
Institusi besar bisa mendominasi ekosistem dengan sistem rekomendasi buatan mereka.
-
Ketimpangan kekuatan tetap bisa terjadi jika desain awal tidak adil.
Tantangan Platform Terdesentralisasi
Platform seperti Mastodon atau Bluesky menghadapi dilema besar:
-
Tanpa moderasi terpusat, konten berbahaya bisa tersebar bebas.
-
Relawan admin bisa kewalahan menjaga komunitas yang tumbuh pesat.
-
Komunitas bisa saling memblokir, menciptakan silo ideologi yang justru memecah ruang publik.
Desentralisasi memberi kebebasan,
tapi juga membawa tanggung jawab kolektif yang belum terjawab:
-
Bagaimana menjaga kohesi komunitas?
-
Siapa yang bertanggung jawab ketika masalah muncul?
-
Bagaimana mengatur kebijakan lintas komunitas tanpa otoritarianisme?
Literasi Digital sebagai Kesehatan Publik

Solusi jangka panjang tidak hanya teknologi, tapi juga pendidikan.
Kita harus memandang literasi digital sebagai kapasitas kolektif, bukan sekadar tanggung jawab individu.
Langkah awal:
-
Bukan hanya “workshop cek hoaks”,
tetapi pemahaman mendalam tentang cara algoritma mempengaruhi persepsi kita. -
Pendidikan tentang bagaimana desain aplikasi mengeksploitasi otak manusia.
Pendidikan ini harus dimulai sejak usia dini:
-
Dari SD hingga SMA, literasi digital diajarkan sebagai kompetensi inti.
-
Membekali generasi muda untuk menjadi pencipta budaya digital, bukan konsumen pasif.
Komponen penting literasi digital modern:
-
Algorithmic Literacy → memahami cara kerja algoritma dan bagaimana data pribadi digunakan.
-
Kesadaran data → mengetahui bagaimana platform mengatur apa yang Anda lihat, dan apa yang disembunyikan.
Jika diajarkan secara masif, literasi digital bisa menjadi benteng sipil untuk melindungi masyarakat dari manipulasi digital.
Perlindungan dan Transparansi
Beberapa ide untuk melindungi pengguna dari dampak negatif:
-
Default privacy setting yang aman sejak awal, bukan sebaliknya.
-
Cooling-off period untuk konten viral → menunda penyebaran postingan yang tiba-tiba melonjak engagement-nya.
-
Audit algoritma publik, agar masyarakat tahu bagaimana konten diprioritaskan.
-
Dashboard real-time yang menunjukkan pola manipulasi atau bot yang bekerja di balik layar.
Jika taktik platform menjadi transparan,
maka kekuatan manipulatif mereka otomatis berkurang.
Masa Depan yang Bisa Kita Pilih

Reformasi tidak bisa hanya bergantung pada individu atau pemerintah saja.
Kita harus bekerja di dua jalur:
-
Memperbaiki platform yang ada agar kerusakannya tidak semakin parah.
-
Membangun platform baru yang benar-benar berpihak pada manusia.
Tujuannya bukan sekadar menghindari bencana digital,
tetapi menciptakan internet yang lebih manusiawi:
-
Lebih kecil,
-
Lebih lambat,
-
Lebih berniat dan bertanggung jawab.
Di masa depan ini, algoritma melayani komunitas, bukan mengeksploitasinya.
Koneksi digital dibangun bukan untuk viral,
tapi untuk memahami dan terhubung.
Hari-hari terakhir media sosial bisa menjadi awal dari sesuatu yang lebih manusiawi:
sebuah web yang mengingat alasan kita datang online —
bukan untuk dieksploitasi, tapi untuk didengar,
bukan untuk viral, tapi untuk menemukan komunitas kita sendiri.
Penutup
Media sosial seperti yang kita kenal mungkin sedang sekarat.
Namun, ini bukan akhir — ini adalah kesempatan untuk memulai yang baru.
Kita membangun sistem lama, dan kita juga bisa membangun sistem yang lebih baik.
Pertanyaannya bukan apakah kita mampu,
tetapi apakah kita mau mengambil tindakan sebelum semuanya tenggelam.
Tuntas — Terima kasih telah mengikuti seri ini.
Artikel ini terinspirasi dari tulisan James O'Sullivan (2 September 2025) di Noema Magazine.
Sumber asli: https://www.noemamag.com/the-last-days-of-social-media/
Dengan artikel ini, seri “Runtuhnya Media Sosial” resmi ditutup,
memberikan refleksi mendalam tentang krisis digital dan harapan membangun internet yang lebih manusiawi.
Blog ini didukung oleh pembaca. Rizal IT Consulting dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda bertransaksi di tautan yang ditampilkan di situs ini. Ikuti kami juga di Google News Publisher untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru. Info lanjut, kolaborasi, sponsorship dan promosi, ataupun kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207 | .