Skip to main content

737 Ekstensi "VPN" Palsu Ketahuan Mengintai 75.000 Orang — Jangan-Jangan Punyamu Salah Satunya

14 Agustus 2026
 

Bayangkan begini: seseorang memasang ekstensi "VPN gratis" di Chrome supaya merasa lebih aman saat berselancar di internet. Niatnya sederhana — sekadar ingin browsing tanpa diintip siapa-siapa. Yang terjadi justru sebaliknya: setiap situs yang dia buka diam-diam dikirim ke server milik orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

Itulah inti dari temuan yang belakangan menghebohkan dunia keamanan siber. 737 ekstensi VPN palsu Chrome, terpasang lebih dari 75.000 kali, diterbitkan lewat setidaknya 40 akun developer berbeda di Chrome Web Store, dan semuanya mengalirkan trafik penggunanya lewat satu server yang sama — melalui port 1082.

Tim riset keamanan Socket adalah pihak yang pertama kali membongkar seluruh jaringan ini, dan kasusnya langsung diangkat oleh dua media keamanan siber ternama, BleepingComputer dan The Hacker News. Ceritanya memang bikin geleng-geleng kepala, tapi jujur saja, cara kerja triknya juga cukup menarik untuk dibedah satu per satu.


DAFTAR ISI

Ironi yang Bikin Nggak Habis Pikir

Ada satu hal yang membuat siapa pun yang membaca kasus ini langsung merasa aneh: VPN itu seharusnya jadi alat yang menyembunyikan aktivitas online seseorang. Orang memasangnya justru supaya tidak ada pihak lain yang bisa melihat apa yang sedang dia lakukan di internet.

Nah, 737 ekstensi palsu ini melakukan persis kebalikannya. Setiap situs yang dibuka penggunanya diam-diam "dikirim" ke server milik operator yang tidak dikenal. Kepercayaan yang sama, dibalik seratus delapan puluh derajat. Itulah yang membikin kasus ini terasa begitu keji — dan kalau boleh jujur, juga cukup licik dari sisi eksekusinya. Fenomena ekstensi browser bisa saja mencuri data pribadi penggunanya sebenarnya bukan hal baru, tapi jarang ada yang skalanya sebesar ini.

🧩 Kamus Kilat Biar Nggak Bingung

Sebelum masuk lebih dalam, ada baiknya menyamakan dulu pemahaman soal beberapa istilah teknis yang akan sering muncul:

IstilahArtinya
VPN Terowongan yang seharusnya menyembunyikan ke mana saja seseorang browsing. Di kasus ini, "terowongannya" cuma kedok belaka.
Ekstensi browser Add-on kecil yang dipasang lewat tombol "Add to Chrome". Ukurannya kecil, tapi aksesnya di dalam browser bisa sangat besar.
Proxy / SOCKS5 proxy Server perantara yang dilewati semua trafik penggunanya. Siapa pun yang mengendalikan server ini bisa mengintip apa yang lewat.
Traffic (trafik) Secara harfiah adalah daftar setiap situs dan halaman yang dibuka, ditambah lokasi asli pengguna (alamat IP).
TLS SNI Sekalipun sebuah situs sudah dienkripsi, bagian ini tetap membocorkan nama situs yang sedang dikunjungi. Operator server bisa melihatnya.
Impersonation (penyamaran identitas) Para pelaku menyalin nama-nama merek asli seperti Proton dan Nord, supaya calon korban lebih percaya.

🎭 Kedok yang Mereka Pakai

Ekstensi-ekstensi palsu ini mengenakan "kostum" nama-nama paling dipercaya di dunia privasi digital:

  • Proton VPN, NordVPN, Surfshark, ExpressVPN
  • Bahkan layanan gratis Cloudflare, 1.1.1.1, yang justru dipasang orang khusus supaya lebih aman

Skenarionya sederhana: seseorang mengetik "Proton VPN Chrome" di kolom pencarian, muncul ikon hijau dengan nama yang terasa familier, lalu diklik "Add". Selesai. Padahal itu bukan Proton VPN yang asli — hanya salinan yang memakai identitas Proton. Situs resmi Proton VPN yang sesungguhnya ada di sini, sebagai pembanding.

Kasus semacam ini juga bukan yang pertama — sebelumnya pernah terbongkar juga ekstensi Chrome lain yang menyamar mencuri data pengguna dengan berpura-pura jadi merek-merek besar yang sudah dikenal luas. Pola penyamaran seperti ini rupanya jadi taktik favorit para pelaku kejahatan siber.


Banner Layanan Asisten Virtual
Banner Layanan Asisten Virtual


🔧 Cara Kerja Triknya (Versi Simpel)

Sebanyak 520 dari ekstensi tersebut mengubah satu pengaturan tersembunyi (chrome.proxy.settings) sehingga hampir seluruh aktivitas browsing penggunanya dialirkan lewat proxy tersembunyi port 1082 milik operator.

Satu-satunya yang mereka lewatkan hanyalah alamat internal komputer pengguna sendiri. Selebihnya? Bebas diakses.

Posisi ini menempatkan si operator sebagai "orang di tengah" (middle-man) — mereka bisa melihat situs apa saja yang dikunjungi, alamat IP asli pengguna, dan isi halaman apa pun yang belum terenkripsi penuh, secara utuh.

Yang lebih licik lagi, 104 dari ekstensi tersebut memakai trik DNS-over-HTTPS lewat Google atau Cloudflare untuk menyembunyikan alamat server mereka sendiri, supaya lebih sulit diblokir. Persis seperti pencuri yang menghapus jejak kakinya sendiri.

Kasus ini mengingatkan pada pola yang sama seperti bagaimana ISP juga diam-diam mengintai privasi pelanggannya lewat perangkat yang justru dipercaya untuk menyambungkan ke internet. Titik lemahnya selalu sama: perangkat atau layanan yang seharusnya melindungi, justru diam-diam berbalik mengawasi.

📊 Datanya, Biar Lebih Jelas

AngkaArtinya
737 Jumlah ekstensi VPN palsu yang ditemukan
75.000+ Jumlah orang yang memasang salah satu ekstensinya
40+ Jumlah akun developer di Chrome Web Store yang dipakai
525 Jumlah ekstensi yang kodenya berhasil ditarik peneliti untuk dianalisis
520 Jumlah ekstensi yang benar-benar mengalihkan hampir seluruh trafik penggunanya
1082 Nomor port yang dipakai server mata-mata mereka untuk "mendengarkan"

Rincian lengkap sumber data dan daftar merek yang ditiru bisa dibaca langsung di laporan Socket dan liputan BleepingComputer di atas.

🌍 Siapa yang Paling Jadi Sasaran

Mayoritas korban adalah pengguna berbahasa Rusia yang mencoba mengakses layanan yang diblokir di negaranya — mulai dari Instagram, YouTube, hingga ChatGPT. Orang-orang yang paling membutuhkan "jalan pintas" seperti ini, alias yang punya paling sedikit pilihan untuk bersikap pemilih, justru paling parah kena dampaknya. Para peneliti mengaitkan jaringan ini dengan sebuah operator layanan berlangganan yang menamakan dirinya Myxa VPN. Pola klasik: makin ketat pembatasan internet di suatu tempat, makin besar juga keinginan orang untuk buru-buru klik "install", dan makin mudah pula mereka dikelabui.

Meski kasus ini paling banyak menimpa pengguna berbahasa Rusia, pola perilakunya sebenarnya sangat familier di Indonesia. Banyak pengguna internet lokal juga terbiasa memasang ekstensi VPN gratis dari Chrome Web Store hanya untuk mengakses situs yang lambat, konten yang dibatasi wilayah, atau sekadar berjaga-jaga saat memakai Wi-Fi publik di kafe dan bandara — tanpa pernah benar-benar memeriksa siapa sebenarnya di balik ekstensi yang mereka pasang.

 

banner rumah edho horizontal kecil

🗣️ Apa Kata Orang-orang soal Ini

Banyak yang berkomentar bahwa satu-satunya aplikasi yang dipasang orang supaya TIDAK diawasi, justru berubah menjadi pihak yang mengawasi. Kalangan pegiat keamanan siber juga menyoroti kenyataan yang cukup memalukan: sebuah ekstensi bisa saja mengubah pengaturan proxy secara diam-diam, sementara hampir tidak ada pengguna yang pernah repot-repot membuka halaman chrome://extensions untuk mengeceknya sendiri.

Kesimpulan yang paling sering muncul di berbagai diskusi adalah: istilah "VPN gratis" selama ini memang selalu berarti bahwa penggunanyalah yang sebenarnya menjadi produk yang dijual. Kasus VPN gratis mengintai data pengguna semacam ini pun bukan yang pertama kali terjadi, dan kemungkinan besar bukan yang terakhir. Kasus 737 ekstensi ini hanya jadi bukti paling nyaring dari pola yang sebenarnya sudah lama diketahui. TechCrunch bahkan merangkumnya sebagai salah satu contoh dari rentetan masalah keamanan siber sepanjang tahun ini dalam rangkuman insiden terbesar mereka.

🛠️ Langkah Lanjutan yang Bisa Langsung Dilakukan

LangkahYang Perlu Dilakukan Sekarang
Audit ekstensi sendiri lebih dulu Buka chrome://extensions, hapus apa pun yang tidak diingat pernah dipasang
Ganti dengan tools yang asli Pasang Proton VPN atau 1.1.1.1 langsung dari situs resminya, bukan hasil pencarian di store
Pelajari cara tes kebocoran VPN Simpan alamat ipleak.net dan browserleaks.com sebagai bookmark
Pahami bahaya izin "proxy" Baca apa saja yang bisa dilakukan izin "proxy" pada sebuah ekstensi lewat dokumentasi resmi Chrome
Ikuti terus perkembangan sumbernya Pantau laporan lanjutan dari Socket dan BleepingComputer

Untuk memahami setiap poin di atas lebih detail:

Audit ekstensi sendiri lebih dulu. Buka chrome://extensions, lalu cocokkan ID setiap ekstensi (bukan sekadar nama atau ikonnya) dengan daftar yang dirilis Socket. Ekstensi yang mencurigakan atau tidak dikenali sebaiknya langsung dihapus.

Ganti dengan tools yang asli. Untuk kebutuhan pribadi, unduh Proton VPN dan 1.1.1.1 langsung dari situs resminya. Untuk kebutuhan bisnis atau organisasi yang butuh jaminan lebih formal, pertimbangkan juga layanan VPN bisnis terbaik untuk perusahaan yang memang dirancang untuk kebutuhan tim, bukan ekstensi gratisan yang asal-asalan.

Pelajari cara tes kebocoran VPN. Coba pakai tool privasi gratis pengecekan pelacak situs seperti ipleak.net atau browserleaks.com saat VPN sedang aktif. Kalau kota asli tetap muncul, berarti VPN itu bocor atau bahkan palsu.

Pahami bahaya izin "proxy". Sebuah izin yang terlihat sepele di mata orang awam ternyata bisa mengendalikan ke mana seluruh trafik browser diarahkan. Detailnya bisa dibaca di dokumentasi resmi Chrome untuk pengembang.

Ikuti terus perkembangan sumbernya, dan sekalian biasakan diri memakai 40 website keamanan siber gratis sebagai bahan belajar tambahan supaya makin terbiasa mengenali pola-pola serangan serupa di masa depan.

Berikut cara mengganti kata sandi setelah kena ekstensi palsu semacam ini: kalau ada kredensial atau kata sandi yang sempat dimasukkan lewat situs tanpa HTTPS selama ekstensi tersebut aktif, sebaiknya segera diganti. Memakai password manager gratis yang lebih andal bisa jadi cara paling praktis supaya proses ganti kata sandi ini tidak merepotkan, sekaligus membiasakan diri memakai kata sandi yang benar-benar unik di setiap layanan.



⚡ Cek Cepat

Berikut cara cek ekstensi VPN palsu dengan cepat, tanpa perlu instal tool tambahan apa pun:

Kalau Ingin...Lakukan Ini
Memastikan diri bukan korban Buka chrome://extensions, cocokkan ID-nya dengan daftar milik Socket
Menguji VPN apa pun dalam 30 detik Jalankan ipleak.net saat VPN menyala — kalau kota asli tetap muncul, berarti palsu

Secara umum, siapa pun yang ingin lebih tenang berselancar di internet juga bisa mulai menerapkan sembilan cara mudah menghentikan pengawasan digital semacam ini, bukan hanya soal ekstensi VPN saja.

Catatan: sebagian tautan eksternal pada artikel ini mengarah ke situs pihak ketiga. Ada kemungkinan sebagian di antaranya sudah tidak dapat diakses lagi pada saat artikel ini dibaca, mengingat sifat internet yang terus berubah.

Kalau Urusan Keamanan Digital Begini Terasa Merepotkan, Ada yang Bisa Bantu

Mengecek satu per satu ekstensi yang terpasang di seluruh perangkat tim, memastikan tools yang dipakai memang resmi, sampai memantau perkembangan ancaman baru seperti ini — semuanya makan waktu, apalagi kalau dikerjakan sendirian di tengah kesibukan operasional sehari-hari. Banyak pemilik usaha dan pengelola lembaga baru sadar ada yang salah setelah masalahnya benar-benar terjadi, padahal sebagian besar risiko semacam ini sebenarnya bisa dicegah lebih dulu dengan audit sederhana dan kebiasaan digital yang lebih rapi.

Di sinilah dukungan asisten virtual dan IT support dari Rizal IT Consulting bisa jadi tangan kanan yang meringankan beban tersebut — mulai dari audit ekstensi dan perangkat, penataan ulang kebiasaan digital tim, hingga pendampingan rutin supaya urusan teknis tidak lagi jadi sumber kekhawatiran. Penasaran seberapa banyak celah kecil yang mungkin selama ini luput dari perhatian di lingkungan kerja sendiri?


Kontak Kami


 

Kami dapat memperoleh komisi ketika Anda bertransaksi di tautan yang ditampilkan di situs ini. Ikuti saluran kami di Whatsapp untuk info artikel terbaru. Pertanyaan bisnis atau penempatan konten promosi: 0813-8229-7207 | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya..

 

🗓️ Sejak 2006 💻 Sabtu - Kamis ⏰ 08-17 WIB ☎️ 0813-8229-7207 📧 Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Banner Layanan Asisten Virtual