Peneliti Peringatkan: WiFi Bisa Menjadi Sistem Pengawasan Massal yang Tak Terlihat
Bayangkan kamu sedang duduk santai di kafe langganan sambil menikmati kopi pagi, tanpa membawa ponsel. Kamu merasa aman dari pengawasan digital, kan? Ternyata tidak.
Para peneliti dari Karlsruhe Institute of Technology (KIT) di Jerman baru saja mengungkap temuan yang cukup mengejutkan: kamu bisa diidentifikasi hanya dengan berjalan melewati area yang memiliki jaringan WiFi aktif—bahkan ketika kamu tidak membawa perangkat elektronik apapun.
Teknologi baru ini memanfaatkan sinyal WiFi biasa yang ada di sekitar kita untuk "melihat" dan mengenali individu, mirip seperti cara kerja kamera pengintai. Bedanya, teknologi ini menggunakan gelombang radio alih-alih cahaya, dan yang lebih mengkhawatirkan: sepenuhnya tak terlihat.
"Ini bukan lagi tentang privasi digital biasa," kata Professor Thorsten Strufe dari KASTEL (Institute of Information Security and Dependability di KIT). "Ini tentang bagaimana infrastruktur WiFi yang kita anggap netral bisa berubah menjadi mata-mata senyap yang mengawasi setiap gerak-gerik kita."
- Bagaimana Cara Kerja Teknologi "Mata-mata WiFi" Ini?
- Router WiFi: Dari Alat Bantu Jadi Alat Intai
- Tidak Perlu Perangkat Khusus—Itu Yang Membuatnya Lebih Mengerikan
- Akurasi Hampir 100%—Teknologi Ini Benar-benar Berfungsi
- Apa Yang Bisa Kita Lakukan?
- Teknologi Dual-Use: Manfaat vs Ancaman
- Privasi Di Era WiFi Everywhere
- Apakah Tim Anda Sudah Siap Menghadapi Ancaman Digital yang Tak Terlihat?
Bagaimana Cara Kerja Teknologi "Mata-mata WiFi" Ini?

Untuk memahami betapa canggihnya teknologi ini, kita perlu sedikit menyelami cara kerjanya—tapi jangan khawatir, saya akan jelaskan dengan bahasa yang sederhana.
Setiap kali perangkat WiFi berkomunikasi dengan router—entah itu laptop tetangga yang sedang streaming Netflix, atau smartphone orang yang duduk di sebelah meja kamu di kafe—mereka memancarkan gelombang radio ke segala arah. Gelombang ini tidak hanya membawa data, tapi juga memantul ke berbagai objek di sekitarnya: dinding, furniture, bahkan tubuh manusia.
Ketika gelombang radio ini memantul dari tubuh kita, mereka menciptakan pola unik—semacam "sidik jari radio" yang berbeda untuk setiap orang. Pola ini dipengaruhi oleh bentuk tubuh, cara berjalan, bahkan postur tubuh kita.
Nah, teknologi yang dikembangkan peneliti KIT ini mampu menangkap dan menganalisis pola-pola tersebut menggunakan machine learning. Dalam waktu singkat—hanya beberapa detik—sistem bisa mengenali siapa kamu berdasarkan "sidik jari radio" yang ditinggalkan tubuhmu.
Yang lebih mengkhawatirkan: semua ini dilakukan menggunakan perangkat WiFi standar yang sudah ada di mana-mana. Tidak perlu kamera khusus, tidak perlu sensor LIDAR mahal, bahkan tidak perlu perangkat tambahan apapun.
Beamforming Feedback Information: Celah yang Tak Terenkripsi
Kunci dari teknologi surveillance ini terletak pada sesuatu yang disebut Beamforming Feedback Information (BFI).
BFI adalah data yang secara rutin dikirimkan perangkat WiFi ke router untuk mengoptimalkan koneksi. Masalahnya? Data ini dikirim tanpa enkripsi dan bisa dibaca oleh siapa saja yang berada dalam jangkauan WiFi.
"Bayangkan seperti mengirim kartu pos lewat pos biasa," jelas Strufe. "Siapapun yang kebetulan berada di jalur pengiriman bisa membaca isinya."
Dengan mengumpulkan data BFI dari berbagai perangkat WiFi yang berkomunikasi di sekitarmu, sistem bisa membuat "gambar radio" dari tubuhmu dari berbagai sudut pandang. Semakin banyak perangkat WiFi yang aktif di area tersebut, semakin detail dan akurat identifikasi yang bisa dilakukan.
Kembangkan aplikasi online lebih cepat dengan bantuan AI—mulai disini Jasa Pengelolaan Website Joomla, Wordpress, Hingga CMS Lainnya Jasa Backlink DoFollow Berkualitas Dari Berbagai Topik Jasa Renovasi/Perombakan Tampilan Situs Web Dinamis dan Statis Jasa Pembuatan Software Desktop PC dan Laptop Microsoft Windows
Router WiFi: Dari Alat Bantu Jadi Alat Intai
"Teknologi ini mengubah setiap router WiFi menjadi potensi alat surveillance," peringatan keras dari Julian Todt, salah satu peneliti di KASTEL.
Mari kita bayangkan skenario nyata di Indonesia: Kamu rutin mampir ke sebuah kafe di daerah Sudirman setiap pagi sebelum ke kantor. Kafe tersebut punya WiFi publik yang selalu menyala. Dengan teknologi ini, pemilik kafe—atau siapapun yang punya akses ke router—bisa:
- Mengenali kamu setiap kali datang, bahkan tanpa kamu login ke WiFi mereka
- Mencatat jam-jam kunjunganmu secara konsisten
- Membangun profil tentang rutinitas harianmu
- Bahkan menjual informasi ini ke pihak ketiga untuk keperluan marketing
Semua data ini menjadi bagian dari jejak digital dan potensi bahayanya yang sering kita abaikan dalam kehidupan sehari-hari.
"Kalau kamu rutin lewat depan kafe yang punya jaringan WiFi, kamu bisa diidentifikasi di sana tanpa sadar, dan dikenali lagi nanti—misalnya oleh pihak berwenang atau perusahaan," tambah Todt.
Felix Morsbach, peneliti lain dalam tim, mencatat bahwa memang saat ini badan intelijen atau penjahat siber masih punya cara yang lebih sederhana untuk memantau orang—seperti mengakses sistem CCTV atau video doorbell.
"Tapi, jaringan wireless yang ada di mana-mana ini bisa menjadi infrastruktur surveillance yang hampir menyeluruh dengan satu sifat yang mengkhawatirkan: mereka tidak terlihat dan tidak menimbulkan kecurigaan," ujarnya.
Dan ini bukan hyperbola. Coba hitung berapa banyak jaringan WiFi yang kamu temui setiap hari: di rumah, kantor, mall, restoran, bandara, stasiun, bahkan di angkutan umum. Di Indonesia khususnya, WiFi gratis sudah menjadi amenitas standar—dari warung kopi pinggir jalan sampai hotel mewah.
Tidak Perlu Perangkat Khusus—Itu Yang Membuatnya Lebih Mengerikan

Aspek paling mengkhawatirkan dari teknologi ini adalah kesederhanaannya.
Berbeda dengan serangan siber yang membutuhkan sensor LIDAR atau teknik WiFi-based sebelumnya yang menggunakan Channel State Information (CSI)—yang memerlukan pengukuran kompleks tentang bagaimana sinyal radio berubah ketika memantul dari dinding, furniture, atau manusia—pendekatan ini tidak memerlukan peralatan khusus sama sekali.
Cukup dengan perangkat WiFi standar yang bisa dibeli di toko elektronik manapun, seseorang sudah bisa menjalankan sistem surveillance ini.
Metode ini memanfaatkan komunikasi jaringan normal antara perangkat yang terhubung dan router. Perangkat-perangkat ini secara rutin mengirim sinyal feedback dalam jaringan, yang dikenal sebagai beamforming feedback information (BFI). Sinyal ini ditransmisikan tanpa enkripsi dan bisa dibaca oleh siapapun yang berada dalam jangkauan.
Dengan mengumpulkan data ini, gambar tentang seseorang bisa dihasilkan dari berbagai perspektif, memungkinkan individu untuk diidentifikasi. Setelah model machine learning dilatih, proses identifikasi hanya memakan waktu beberapa detik saja.
Akurasi Hampir 100%—Teknologi Ini Benar-benar Berfungsi
Dalam studi yang melibatkan 197 partisipan, tim peneliti mampu menyimpulkan identitas seseorang dengan akurasi hampir 100%—tidak peduli dari sudut pandang mana mereka mengamati atau bagaimana cara berjalan orang tersebut.
Baca itu lagi: hampir 100% akurat.
Ini bukan proof of concept yang masih jauh dari aplikasi nyata. Ini adalah teknologi yang sudah berfungsi dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi.
"Teknologinya powerful, tapi pada saat yang sama mengandung risiko terhadap hak-hak fundamental kita, terutama privasi," tegas Strufe.
Implikasi Untuk Negara-negara Dengan Kebebasan Sipil Terbatas
Para peneliti secara khusus memperingatkan bahwa ini sangat kritis di negara-negara otoriter di mana teknologi tersebut bisa digunakan untuk mengawasi demonstran.
Mari kita tidak naif. Teknologi semacam ini, di tangan yang salah, bisa menjadi alat penindasan yang sangat efektif.
Bayangkan demonstrasi damai yang pesertanya dengan sengaja tidak membawa ponsel untuk menghindari pelacakan. Dengan teknologi WiFi surveillance ini, mereka tetap bisa diidentifikasi dan dilacak—cukup dengan keberadaan router WiFi di gedung-gedung sekitar lokasi demonstrasi.
Atau bayangkan aktivis yang mencoba bertemu secara "off-grid" di kafe atau tempat umum. Meski mereka meninggalkan semua perangkat elektronik di rumah, kehadiran mereka tetap bisa dicatat dan dianalisis melalui jaringan WiFi yang ada di tempat pertemuan.
Ini bukan skenario fiksi ilmiah. Ini adalah kemampuan teknologi yang sudah ada sekarang.
Apa Yang Bisa Kita Lakukan?

Pertanyaan paling penting: bagaimana kita melindungi diri dari jenis surveillance yang hampir tidak mungkin dihindari ini?
Sayangnya, tidak ada jawaban yang memuaskan untuk individu biasa. Kamu tidak bisa "mematikan" tubuhmu agar tidak memantulkan gelombang radio. Kamu juga tidak bisa menghindari semua area yang memiliki WiFi—itu sama saja dengan tidak keluar rumah sama sekali di era modern ini.
Perlindungan harus datang dari level yang lebih tinggi: regulasi dan standar teknis.
Para peneliti KIT secara tegas menyerukan tindakan perlindungan dan jaminan privasi dalam standar WiFi IEEE 802.11bf yang akan datang. Mereka mendesak agar:
- Data BFI harus dienkripsi - Sehingga tidak bisa dibaca sembarangan oleh pihak yang tidak berwenang
- Sistem deteksi anomali - Router harus bisa mendeteksi ketika ada perangkat yang mencoba mengumpulkan data BFI secara masif
- Transparansi dan consent - Pengguna harus diberitahu ketika berada di area yang menggunakan teknologi WiFi sensing
- Regulasi ketat - Pemerintah perlu membuat aturan yang jelas tentang siapa yang boleh menggunakan teknologi ini dan untuk keperluan apa
Kesadaran Adalah Langkah Pertama
Meski kita sebagai individu tidak bisa berbuat banyak untuk menghindari teknologi ini, kesadaran tentang keberadaannya adalah langkah pertama yang penting.
Sama seperti kita sekarang lebih aware tentang kamera pengintai di ruang publik atau tentang bagaimana data browsing kita dilacak, kita juga perlu memahami bahwa WiFi—yang selama ini kita anggap sebagai utilitas netral—bisa digunakan untuk surveillance.
Beberapa langkah praktis yang bisa kamu pertimbangkan:
Untuk Pengguna Individu:
- Batasi waktu berada di area publik dengan WiFi yang tidak kamu kenal
- Lebih aware tentang lokasi-lokasi yang kamu kunjungi secara rutin
- Variasikan rutinitas harianmu jika memungkinkan
- Pelajari tentang hak privasi digital dan dukung regulasi yang melindungi privasi
Untuk Pemilik Bisnis:
- Pertimbangkan implikasi privasi ketika menyediakan WiFi publik
- Buat kebijakan yang transparan tentang penggunaan data
- Jangan menjual atau membagikan data pelanggan tanpa consent yang jelas
- Invest dalam teknologi yang menghormati privasi pengguna
Untuk Pembuat Kebijakan:
- Segera buat regulasi tentang penggunaan WiFi sensing technology
- Tetapkan standar enkripsi untuk data BFI
- Buat mekanisme oversight untuk mencegah penyalahgunaan
- Libatkan ahli privasi dan keamanan siber dalam pembuatan kebijakan
Teknologi Dual-Use: Manfaat vs Ancaman
Perlu dicatat bahwa seperti banyak teknologi dual-use lainnya, WiFi sensing sebenarnya punya potensi aplikasi yang positif:
- Smart home - Mendeteksi ketika penghuni jatuh atau memerlukan bantuan
- Keamanan - Mendeteksi intrusi tanpa perlu kamera yang invasif
- Retail analytics - Memahami pola lalu lintas pelanggan untuk layout toko yang lebih baik
- Penghematan energi - Menyesuaikan pencahayaan dan AC berdasarkan keberadaan orang
Tapi seperti yang sering terjadi dengan teknologi powerful, garis antara "helpful" dan "invasive" sangat tipis. Yang membedakan adalah kontrol, transparansi, dan consent.
Masalahnya adalah ketika teknologi ini diimplementasikan tanpa sepengetahuan atau persetujuan orang yang diawasi. Ketika tidak ada transparansi tentang siapa yang mengumpulkan data, untuk apa, dan berapa lama data tersebut disimpan.
Privasi Di Era WiFi Everywhere
Studi dari tim KIT ini bukan hanya peringatan tentang satu teknologi spesifik. Ini adalah reminder tentang bagaimana kita perlu terus waspada terhadap evolusi teknologi surveillance yang semakin sophisticated.
Kita hidup di era di mana infrastruktur digital yang kita anggap netral bisa dengan mudah diubah menjadi alat pengawasan. WiFi ada di mana-mana—dan itu adalah berkah sekaligus potensi ancaman.
Catatan penting: Artikel asli menyebutkan beberapa referensi teknis dan link penelitian. Beberapa link tersebut mungkin saja sudah tidak dapat diakses lagi ketika Anda membaca artikel ini, mengingat sifat dinamis dari situs web dan repositori akademik.
Yang kita butuhkan sekarang adalah:
- Regulasi yang kuat untuk mencegah penyalahgunaan
- Standar teknis yang memasukkan privasi sejak tahap desain
- Transparansi dari pihak yang menggunakan teknologi ini
- Kesadaran publik tentang risiko dan hak-hak digital kita
Jangan sampai kita membiarkan masa depan di mana setiap langkah kita di ruang publik direkam dan dianalisis tanpa sepengetahuan atau persetujuan kita.
WiFi memang membuat hidup lebih mudah. Tapi kemudahan itu tidak boleh datang dengan harga pengawasan massal yang tak terlihat.
Stay informed, stay aware, dan yang paling penting: dukung kebijakan yang melindungi privasi digital kita semua.
Penelitian Asli: "BFId: Identity Inference Attacks Utilizing Beamforming Feedback Information" oleh Julian Todt, Felix Morsbach dan Thorsten Strufe, 22 November 2025, CCS '25: Proceedings of the 2025 ACM SIGSAC Conference on Computer and Communications Security. DOI: 10.1145/3719027.3765062
Proyek ini didanai oleh Helmholtz dengan topik "Engineering Secure Systems".
Sumber artikel: SciTechDaily - Christian Könemann, 3 Februari 2026.
Apakah Tim Anda Sudah Siap Menghadapi Ancaman Digital yang Tak Terlihat?
Setelah membaca artikel ini, mungkin ada satu pertanyaan besar yang muncul di benak Anda: "Apakah bisnis saya sudah cukup aman dari ancaman seperti ini?"
Faktanya, kebanyakan perusahaan di Indonesia—terutama UMKM dan startup—baru menyadari risiko keamanan digital setelah terjadi insiden. Ketika data pelanggan bocor. Ketika kompetitor tahu strategi bisnis yang seharusnya konfidensial. Atau ketika tim tanpa sadar memberikan akses ke informasi sensitif perusahaan.
Yang lebih mengkhawatirkan? 78% karyawan tidak aware tentang ancaman digital dasar yang mereka hadapi setiap hari—dari WiFi publik yang mereka pakai, hingga aplikasi yang mereka install di laptop kantor.
Keamanan Digital Bukan Tentang Teknologi Saja
Di Rizal IT Consulting, kami percaya bahwa keamanan digital yang efektif dimulai dari people, bukan hanya technology.
Kami membantu bisnis Indonesia membangun pertahanan berlapis melalui pendekatan yang disesuaikan dengan konteks lokal Anda:
✓ Audit & Konsultasi - Identifikasi gap keamanan spesifik di infrastruktur IT Anda
✓ Setup Infrastruktur Aman - Dari WiFi enterprise sampai network security yang proper
✓ Training Awareness - Equip tim Anda dengan pengetahuan praktis menghadapi ancaman digital
✓ Ongoing Support - Karena keamanan adalah perjalanan, bukan destinasi
Kami tidak jual solusi one-size-fits-all. Kami dengarkan tantangan spesifik bisnis Anda, lalu design strategi keamanan yang masuk akal untuk skala dan budget Anda.
Punya pertanyaan tentang keamanan digital bisnis Anda? Chat kami via WhatsApp untuk diskusi informal—no commitment, no hard selling. Cuma tanya jawab dan brainstorming solusi yang tepat untuk situasi Anda.
Hubungi Kami
📧 Email:
📱WhatsApp: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207
🕐Operasional: Sabtu – Kamis, 08.00 – 17.30 WIB
🌏 Layanan online tersedia online untuk seluruh Indonesia.
Blog ini didukung oleh pembaca. Rizal IT Consulting dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda bertransaksi di tautan yang ditampilkan di situs ini. Ikuti kami juga di Google News Publisher untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru. Info lanjut, kolaborasi, sponsorship dan promosi, ataupun kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207 | .




