Skip to main content
18 Februari 2026
# Topik

TikTok Dirancang untuk Bikin Ketagihan, Melanggar Hukum Kata Komisi Eropa

18 Februari 2026
 

Komisi Eropa (European Commission) akhirnya mengeluarkan pernyataan tegas: TikTok telah melanggar Digital Services Act (DSA) — regulasi digital Uni Eropa yang mengatur tanggung jawab platform daring — dan gagal melindungi penggunanya secara memadai. Ini bukan sekadar teguran biasa. Ini adalah hasil temuan awal dari penyelidikan panjang yang bisa berujung pada sanksi besar bagi salah satu platform media sosial paling populer di dunia.

Pertanyaannya: apakah ini mengejutkan? Sebenarnya tidak, bagi siapa pun yang pernah "niat buka TikTok sebentar" tapi tahu-tahu sudah satu jam berlalu.

DAFTAR ISI

Apa yang Sebenarnya Ditemukan Komisi Eropa?

TikTok Sengaja Dirancang untuk Bikin Ketagihan

Komisi Eropa menyatakan bahwa TikTok secara sengaja mengandalkan fitur-fitur desain yang bersifat addictive alias bikin nagih. Salah satu yang paling disorot adalah infinite scroll — fitur yang membuat layar terus-menerus menyajikan konten baru setiap kali pengguna menggeser ke bawah, tanpa henti, tanpa jeda, tanpa titik akhir.

Bayangkan seperti mesin slot di kasino. Setiap kali menarik tuas (atau dalam hal ini, menggeser layar), ada sesuatu yang baru muncul. Otak manusia sangat buruk dalam menolak stimulasi semacam ini.

Menurut pihak regulator, desain seperti ini menempatkan otak pengguna dalam kondisi "autopilot" — sebuah kondisi di mana pengguna tidak lagi sadar mengapa mereka masih membuka aplikasi tersebut. Hasilnya adalah perilaku kompulsif: membuka TikTok berulang kali, menggulir tanpa tujuan, dan menghabiskan waktu jauh lebih banyak dari yang direncanakan.

Ini bukan hanya masalah disiplin pribadi. Ini adalah desain yang disengaja.


Dampak Nyata: Anak-anak dan Remaja Paling Rentan

Henna Virkkunen, Wakil Eksekutif Presiden Komisi Eropa yang membidangi kedaulatan teknologi, keamanan, dan demokrasi, berbicara lugas soal ini pada Jumat, 6 Februari 2026:

"Kecanduan media sosial dapat menimbulkan dampak buruk bagi perkembangan pikiran anak dan remaja."

Pernyataan ini bukan sekadar retorika politik. Berbagai riset ilmiah telah menunjukkan bahwa paparan berlebihan terhadap platform media sosial berbasis short-form video seperti TikTok berkorelasi dengan gangguan konsentrasi, kecemasan, hingga penurunan kualitas tidur — terutama pada kelompok usia muda.

Di Indonesia sendiri, fenomena ini sangat terasa. Banyak orang tua yang mulai khawatir melihat anak-anaknya menghabiskan berjam-jam di depan layar tanpa bisa berhenti. TikTok adalah salah satu platform yang paling sering disebut dalam konteks ini. dampak media sosial terhadap perkembangan otak anak menjadi isu yang makin relevan untuk dibahas.


Fitur "Pelindung" yang Sebenarnya Tidak Melindungi

Daily Screen Time: Mudah Diabaikan

TikTok memang memiliki fitur Daily Screen Time yang memungkinkan pengguna menetapkan batas waktu penggunaan harian. Untuk pengguna berusia 13 hingga 17 tahun, batas waktu 1 jam bahkan diset secara otomatis oleh sistem.

Kedengarannya bagus, bukan?

Masalahnya, Komisi Eropa menemukan bahwa peringatan dari fitur ini sangat mudah untuk diabaikan. Sebuah notifikasi yang bisa ditutup dengan satu ketukan jari bukanlah pengaman yang efektif. Ini lebih seperti alarm pagi yang selalu kita snooze.

Family Pairing: Butuh Lebih dari Sekadar Niat Baik

TikTok juga punya fitur Family Pairing, yang memungkinkan orang tua untuk:

  • Mengatur batas waktu penggunaan harian melalui Daily Screen Time
  • Menerima laporan aktivitas anak selama daring
  • Membatasi kata kunci atau tagar (hashtag) pencarian tertentu
  • Mengatur berbagai pengaturan lain terkait konten

Tapi ada persoalan mendasar di sini. Komisi Eropa menyatakan bahwa fitur ini tidak berhasil karena "membutuhkan tambahan waktu dan keterampilan dari orang tua" untuk bisa memberlakukan kontrol tersebut secara efektif.

Dengan kata lain: fiturnya ada, tapi terlalu rumit dan tidak intuitif. Orang tua yang tidak terlalu melek teknologi — yang justru menjadi mayoritas — akan kesulitan menggunakannya dengan benar. Ini adalah celah besar yang, disengaja atau tidak, menguntungkan platform.

Soal pentingnya pemahaman orang tua dalam mengawasi aktivitas digital anak, cara platform media sosial merancang ketergantungan pengguna adalah bacaan yang layak untuk dipahami lebih dalam.

Apa yang Harus Diubah TikTok?

Agar sesuai dengan ketentuan DSA, Komisi Eropa menyatakan bahwa TikTok perlu "mengubah rancangan dasar layanannya." Bukan sekadar perubahan kosmetik, tapi perombakan fundamental pada cara kerja platformnya.

Beberapa perubahan konkret yang diminta antara lain:

  • Mematikan fitur infinite scroll — agar pengguna tidak terus-menerus disodori konten tanpa titik henti
  • Perubahan pada sistem rekomendasi video — agar algoritma tidak semata-mata mendorong konten yang memicu ketergantungan
  • Screen time breaks yang lebih efektif — bukan sekadar notifikasi yang mudah ditutup, tapi intervensi yang benar-benar menghentikan sesi penggunaan

Perlu diingat bahwa cara kerja algoritma rekomendasi konten TikTok adalah inti dari permasalahan ini — bukan fitur tambahan yang mudah dinonaktifkan.


Latar Belakang: Penyelidikan yang Sudah Berjalan Sejak 2024

Uni Eropa tidak bergerak tiba-tiba. Penyelidikan terhadap TikTok sudah dimulai sejak tahun 2024, dengan fokus utama pada satu pertanyaan besar: apakah TikTok melanggar Digital Services Act (DSA)?

DSA adalah regulasi Uni Eropa yang mengharuskan platform daring berskala besar untuk:

  • Menanggulangi risiko sistemik yang ditimbulkan layanannya
  • Memantau dan menyaring konten yang berpotensi berbahaya
  • Memberlakukan transparansi kepada pengguna, peneliti, dan regulator

Penyelidikan tersebut mencakup evaluasi atas risiko internal TikTok, data perusahaan, serta kajian ilmiah tentang perilaku adiktif yang ditimbulkan platform.

Pada Oktober 2025, Komisi Eropa juga menyatakan bahwa TikTok dan Meta sama-sama melanggar DSA karena mempersulit para peneliti untuk mengakses data publik mereka — sebuah kewajiban transparansi yang secara eksplisit diatur dalam regulasi tersebut. Sementara itu, penyelidikan terpisah terkait praktik periklanan TikTok dilaporkan sudah selesai.


Status Saat Ini: Masih Temuan Awal

Penting untuk dipahami: temuan yang diumumkan ini masih bersifat awal. Artinya:

  • Belum ada denda atau penalti yang bisa dijatuhkan kepada TikTok saat ini
  • Penyelidikan masih terus berlangsung
  • TikTok memiliki hak untuk meninjau temuan Komisi dan memberikan tanggapan tertulis, beserta solusi yang mereka tawarkan

Komisi Eropa juga akan berkonsultasi dengan European Board for Digital Services, sebuah kelompok penasihat independen yang bertanggung jawab mengawasi implementasi DSA di seluruh negara anggota Uni Eropa.

Proses ini bisa panjang. Tapi sinyal yang dikirimkan sangat jelas: era platform digital yang bisa beroperasi tanpa tanggung jawab atas dampak sosialnya sudah mulai berakhir di Eropa.

Relevansi untuk Pengguna Indonesia

Indonesia adalah salah satu pasar TikTok terbesar di dunia. Data menunjukkan bahwa pengguna aktif TikTok di Indonesia berada di angka ratusan juta — dengan proporsi pengguna muda yang sangat signifikan.

Regulasi seperti DSA belum ada padanannya di Indonesia. Tapi ini bukan berarti pengguna tidak bisa mengambil langkah mandiri untuk melindungi diri dan keluarganya:

  • Gunakan fitur Screen Time bawaan di perangkat Android atau iOS untuk membatasi waktu penggunaan aplikasi secara keseluruhan
  • Aktifkan Family Pairing di TikTok meski tidak sempurna — tetap lebih baik daripada tidak sama sekali
  • Diskusikan dengan anak tentang bagaimana algoritma bekerja dan mengapa kita merasa sulit berhenti scroll
  • Pertimbangkan untuk mengelola waktu layar dan konsumsi konten digital secara sadar

Kesadaran adalah langkah pertama. Dan memahami bahwa platform ini memang dirancang untuk membuat kita ketagihan — bukan karena kita lemah — adalah titik awal yang penting.

Isu serupa juga muncul dalam konteks yang lebih luas, seperti bagaimana media sosial secara sistematis merancang ketergantungan penggunanya — sebuah pola yang tidak hanya terjadi di TikTok, tapi juga di hampir semua platform besar.


Penutup

Keputusan Komisi Eropa ini adalah pengingat penting bahwa di balik antarmuka yang mulus dan konten yang menghibur, terdapat arsitektur desain yang disengaja untuk memaksimalkan waktu penggunaan — tanpa mempedulikan dampaknya terhadap kesehatan mental penggunanya.

Apakah TikTok akan berubah? Kita belum tahu. Tapi satu hal yang pasti: pertarungan antara regulasi digital dan kepentingan bisnis platform raksasa baru saja memasuki babak yang lebih serius.

Dan untuk kita sebagai pengguna, tidak ada salahnya mulai bertanya: "Siapa yang sebenarnya memegang kendali saat kita scrolling?"

Diadaptasi dari artikel karya Ama Farah, 15 Februari 2026. Sumber asli: hidayatullah.com

Sudah Tahu Risikonya — Tapi Siapa yang Bantu Anda Mengelolanya?

Membaca artikel seperti ini memang membuka mata. Tapi bagi banyak profesional dan pemilik bisnis, tantangan sesungguhnya bukan pada kurangnya informasi — melainkan pada kurangnya waktu dan tenaga untuk mengelola semuanya sendiri.

Dunia digital bergerak cepat. Ancaman keamanan berevolusi. Tren platform berubah. Sementara Anda masih harus fokus menjalankan bisnis.

Di sinilah Rizal IT Consulting hadir — bukan untuk menggurui, tapi untuk menemani. Kami membantu profesional dan pemilik bisnis agar tetap selangkah lebih maju di dunia digital, tanpa harus tenggelam dalam kerumitan teknisnya.

Mulai dari riset dan pengelolaan konten digital yang terstruktur, hingga IT troubleshooting dan support online yang responsif — semuanya bisa diakses dari mana saja, untuk seluruh Indonesia.

Bayangkan: masalah teknis teratasi sebelum mengganggu operasional bisnis Anda. Konten digital terkelola rapi tanpa menguras energi tim inti Anda. Ketenangan pikiran itu — nilainya jauh lebih besar dari biayanya.

Penasaran bagaimana kami bisa membantu situasi spesifik bisnis Anda?

Hubungi Kami
📧 Email:
📱WhatsApp: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207
🕐Operasional: Sabtu – Kamis, 08.00 – 17.30 WIB

🌏 Layanan online tersedia online untuk seluruh Indonesia.

Blog ini didukung oleh pembaca. Rizal IT Consulting dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda bertransaksi di tautan yang ditampilkan di situs ini. Ikuti kami juga di Google News Publisher untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru. Info lanjut, kolaborasi, sponsorship dan promosi, ataupun kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207 | .

 

✓ Link berhasil disalin!
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
Foto Rizal Consulting
Full-time Freelancer
🗓️ Sejak 2006 💻 Sabtu - Kamis ⏰ 08-17 WIB ☎️ 0813-8229-7207 📧