Mengapa Teknologi 'Jadul' Tiba-Tiba Keren Lagi
Kamera film, piringan hitam, mesin ketik, dan ponsel flip sedang comeback—dan bukan sekadar sebagai barang nostalgia belaka. Lintas generasi, terutama di kalangan anak muda, teknologi "jadul" atau retro sedang mengalami momen kejayaannya.
Di dunia yang didominasi layar sentuh dan penyimpanan cloud, perangkat analog menawarkan sesuatu yang langka: rasa nyata yang bisa disentuh, kesederhanaan, dan keaslian.
Kebangkitan retro-tech ini bukan soal menolak kemajuan. Ini tentang merebut kembali rasa keterhubungan dan ketenangan di era yang sering terasa terlalu cepat, terlalu digital, dan terlalu mudah dibuang.
- Kenikmatan dari Sesuatu yang Bisa Disentuh
- Psikologi Nostalgia dan Kontrol
- Nilai-Nilai Vintage di Dunia Modern
- Ketika "Jadul" Jadi Solusi di Era Digital
- Bukan Anti-Teknologi, Tapi Pro-Keseimbangan
- Ketika Lambat Justru Lebih Cepat Sampai
- Masa Depan yang Terinspirasi Masa Lalu
- Teknologi Seharusnya Bantu Kerja, Bukan Bikin Ribet
Kenikmatan dari Sesuatu yang Bisa Disentuh
Ada kepuasan mendalam saat memegang foto fisik dibandingkan sekadar men-scroll foto di layar. Berbeda dengan gambar digital yang hilang di folder tanpa ujung, foto film terasa lebih bermakna. Kita mengambil lebih sedikit jepretan, menunggu proses cuci cetak, lalu menghargai hasilnya. Kelambatan itu memberikan pengalaman analog semacam bobot emosional yang sering hilang dari teknologi modern.
Hal serupa terjadi pada piringan hitam atau vinyl. Meski streaming musik sangat praktis, penjualan vinyl terus meningkat selama lebih dari satu dekade. Para pendengar menginginkan kehangatan suara analog dan ritual menempatkan jarum pada piringan yang berputar. Suara pop dan crackle bukan cacat—itu bagian dari pesonanya, bukti bahwa ada sesuatu yang nyata terjadi secara real time.
Mesin ketik dan buku catatan juga mengalami comeback di kalangan penulis dan seniman yang merasa alat digital terlalu banyak gangguan. Feedback taktil dari tuts keyboard, tidak adanya notifikasi, dan progres visual di halaman kertas—semuanya berkontribusi pada fokus dan mindfulness. Di dunia dengan tombol edit dan undo tanpa batas, alat analog membawa kepastian dan permanensi.
Psikologi Nostalgia dan Kontrol

Kecintaan kita yang tumbuh kembali terhadap teknologi "usang" juga berkaitan dengan keseimbangan psikologis. Kehidupan digital bergerak secepat kilat, meninggalkan sedikit ruang untuk refleksi. Pengalaman analog memaksa kita melambat dan lebih fokus. Menunggu film untuk dicuci cetak atau membalik sisi piringan hitam adalah aksi kecil perlawanan terhadap budaya instant gratification.
Para psikolog mencatat bahwa nostalgia juga memainkan peran kunci. Teknologi lama menghubungkan kita dengan masa-masa yang lebih sederhana—entah itu masa kecil kita sendiri atau era yang bahkan belum pernah kita alami. Menggunakan gadget vintage memicu rasa nyaman dan kontinuitas di tengah lanskap digital yang terus berubah.
Ada juga ketidakpercayaan yang tumbuh terhadap kontrol algoritmik yang semakin kuat. Platform streaming memutuskan apa yang kita tonton dan dengar; filter media sosial membentuk apa yang kita lihat. Teknologi analog mengembalikan kuasa ke tangan manusia. Kamu yang memilih album, mengatur eksposur kamera, dan memutuskan apa yang disimpan atau dihapus. Ketidaksempurnaan itu mengingatkan kita bahwa kreativitas dan kontrol adalah milik manusia, bukan mesin.
Nilai-Nilai Vintage di Dunia Modern
Kebangkitan retro-tech juga mencerminkan perubahan nilai seputar keberlanjutan dan ketahanan produk. Tidak seperti perangkat modern yang mudah dibuang, teknologi lama dibangun untuk bertahan lama. Memperbaiki mesin ketik atau merawat pemutar piringan hitam kontras dengan planned obsolescence smartphone yang menua setiap beberapa tahun. Memilih analog bukan cuma soal estetika—ini tentang minimalisme etis.
Bahkan perusahaan teknologi mulai menyadari tren ini. Produk-produk baru kini banyak meminjam desain vintage, seperti kamera digital yang meniru tekstur film grain, aplikasi yang mensimulasikan suara kaset, dan ponsel yang menawarkan "mode minimal" untuk mengurangi distraksi. Apa yang dimulai sebagai nostalgia kini menjadi filosofi desain: menggabungkan jiwa analog dengan kenyamanan digital.
Ketika "Jadul" Jadi Solusi di Era Digital

Di Indonesia sendiri, tren ini juga mulai terasa. Banyak anak muda yang mulai berburu kamera analog di pasar loak atau online marketplace. Komunitas pecinta vinyl bermunculan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Bahkan beberapa kafe bertema retro menyediakan mesin ketik untuk pengunjung yang ingin merasakan sensasi menulis ala jurnalis zaman dulu.
Fenomena ini bukan sekadar gaya-gayaan. Ini respons alami terhadap kelelahan digital atau digital fatigue. Ketika screen time meningkat drastis—terutama pasca pandemi—banyak orang merindukan pengalaman yang tidak memerlukan charger, WiFi, atau update aplikasi.
Beberapa Alasan Teknologi Jadul Kembali Diminati:
1. Pengalaman yang Lebih Bermakna
Setiap foto dari kamera film, setiap sisi album vinyl yang diputar, punya cerita dan momen tersendiri. Tidak ada skip, tidak ada shuffle otomatis—hanya kamu dan pengalaman itu.
2. Detoks dari Notifikasi
Menulis dengan mesin ketik atau mendengarkan musik dari piringan hitam berarti bebas dari notifikasi yang mengganggu. Fokus kembali sepenuhnya ke aktivitas yang sedang dilakukan.
3. Kualitas yang Terasa Berbeda
Banyak audiophile yang bersumpah bahwa suara vinyl punya "kehangatan" yang tidak bisa ditiru format digital. Begitu juga foto film yang punya karakter grain dan warna unik.
4. Nilai Investasi dan Koleksi
Beberapa perangkat vintage seperti kamera Leica atau turntable high-end justru nilainya terus naik. Ini bukan cuma hobi, tapi juga investasi.
5. Statement Gaya Hidup
Menggunakan teknologi analog adalah pernyataan. Ini menunjukkan bahwa kamu tidak ikut-ikutan arus utama, punya selera tersendiri, dan menghargai kualitas di atas kuantitas.
Bukan Anti-Teknologi, Tapi Pro-Keseimbangan
Penting untuk dicatat: kebangkitan teknologi jadul ini bukan gerakan anti-teknologi. Kita tidak akan kembali sepenuhnya ke era tanpa smartphone atau internet. Yang terjadi adalah pencarian keseimbangan.
Banyak orang kini menerapkan hybrid lifestyle—menggunakan smartphone untuk hal-hal praktis, tapi beralih ke analog untuk momen-momen yang lebih personal dan bermakna. Misalnya, tetap pakai Spotify untuk musik di perjalanan, tapi memutar vinyl saat santai di rumah akhir pekan.
Atau tetap menggunakan kamera smartphone untuk dokumentasi cepat, tapi membawa kamera film untuk momen-momen spesial yang ingin diabadikan dengan lebih thoughtful.
Tips Memulai Petualangan Retro-Tech:
- Mulai dari yang Terjangkau: Tidak perlu langsung beli kamera Leica atau turntable mahal. Coba dulu kamera analog sederhana atau vinyl bekas di harga terjangkau
- Bergabung dengan Komunitas: Banyak komunitas pecinta analog yang saling berbagi tips, tempat service, dan bahkan tukar barang
- Jangan Takut Trial and Error: Analog punya learning curve. Film pertama mungkin akan gagal, jarum piringan hitam mungkin lompat-lompat—tapi itu bagian dari prosesnya
- Mix and Match: Tidak harus all-in. Gunakan kombinasi digital dan analog sesuai kebutuhan dan momen
Ketika Lambat Justru Lebih Cepat Sampai

Paradoksnya, dengan melambat, kita justru lebih cepat sampai ke tujuan yang penting: kehadiran penuh dalam momen (presence). Teknologi jadul mengajarkan kita untuk lebih deliberate dalam setiap tindakan. Setiap klik shutter kamera film dihitung karena roll film terbatas. Setiap album vinyl yang dipilih benar-benar didengarkan dari awal sampai akhir.
Di tengah era abundance yang berlebihan—jutaan lagu di Spotify, ribuan channel di YouTube, notifikasi tanpa henti—analog menawarkan scarcity yang paradoksnya justru lebih memuaskan. Keterbatasan itu memaksa kita membuat pilihan yang lebih bermakna.
Pada akhirnya, teknologi jadul terasa keren lagi karena ia menghubungkan kita kembali dengan sesuatu yang hilang—kehadiran. Dengan melambat, membuat pilihan sadar, dan merangkul ketidaksempurnaan, kita menemukan kembali apa yang seharusnya menjadi fungsi teknologi sejak awal: memperkaya hidup, bukan menghabiskannya.
Masa Depan yang Terinspirasi Masa Lalu
Tren ini kemungkinan akan terus berkembang. Generasi yang tumbuh dengan teknologi digital justru yang paling aktif mencari alternatif analog. Mereka paham betul apa yang hilang di era serba digital: tactile feedback, unpredictability, dan sense of ownership.
Kedepannya, kita mungkin akan melihat lebih banyak produk yang menggabungkan yang terbaik dari kedua dunia. Kamera digital dengan interface dan feel seperti analog. Aplikasi musik yang mensimulasikan ritual vinyl. Atau bahkan smartphone yang dirancang untuk mendorong penggunaan yang lebih mindful.
Yang jelas, "jadul" bukan lagi identik dengan ketinggalan zaman. Di tangan generasi yang tepat, teknologi lama justru menjadi statement modern: bahwa kita bisa memilih bagaimana teknologi melayani kita, bukan sebaliknya.
Artikel ini diterjemahkan dan diadaptasi dari tulisan Lily Phillips, dipublikasikan 28 Oktober 2025 di Read Feed.
Teknologi Seharusnya Bantu Kerja, Bukan Bikin Ribet
Sama seperti kebangkitan teknologi analog yang mengajarkan kita soal kesederhanaan, bisnis modern juga butuh pendekatan IT yang simpel tapi efektif. Bukan soal pakai tools terbanyak atau paling canggih—tapi tools yang tepat untuk kebutuhan spesifik kamu.
Banyak pemilik bisnis yang frustrasi: software berlangganan menumpuk, tim bingung pakai sistem mana, atau malah teknologi yang harusnya bikin produktif justru jadi beban tambahan. Kalau kamu merasa begini, kamu nggak sendirian.
Di sinilah konsultasi teknologi yang tepat jadi game-changer.
Bayangkan punya sistem IT yang:
- Simpel digunakan tim tanpa perlu training berhari-hari
- Hemat budget karena cuma pakai yang benar-benar dibutuhkan
- Produktivitas naik karena workflow yang smooth, bukan ribet
Rizal IT Consulting hadir sebagai asisten virtual dan support IT online yang bisa kamu ajak diskusi seperti teman—tanpa jargon teknis yang bikin pusing. Kami bantu kamu:
✅ Identifikasi tools mana yang sebetulnya kamu butuhkan (dan mana yang cuma buang-buang budget)
✅ Setup sistem IT yang praktis untuk bisnis skala kamu
✅ Support online kapan pun ada kendala teknis mengganggu produktivitas
Teknologi itu alat bantu. Seharusnya bikin hidup lebih mudah, bukan nambah pusing kepala.
Hubungi Kami
📧 Email:
📱WhatsApp: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207
🕐Operasional: Sabtu – Kamis, 08.00 – 17.30 WIB
🌏 Layanan online tersedia online untuk seluruh Indonesia.
Mau diskusi gratis dulu? Ceritakan tantangan IT bisnis kamu—kita cari solusi yang pas bareng-bareng.
Blog ini didukung oleh pembaca. Rizal IT Consulting dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda bertransaksi di tautan yang ditampilkan di situs ini. Ikuti kami juga di Google News Publisher untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru. Info lanjut, kolaborasi, sponsorship dan promosi, ataupun kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207 | .




