Skip to main content
29 Agustus 2026
# Topik

Bikin Home Server Cuma Modal $100: Studi Kasus NAS dan Server Aplikasi Hemat dari Barang Bekas

29 Agustus 2026
 

Zaman sekarang, seratus dolar itu nggak banyak-banyak amat. Paling-paling cukup buat beli Raspberry Pi kelas menengah sepaket aksesorisnya, atau — kalau dikonversi ke Rupiah dengan kurs sekitar Rp17.700 per dolar AS — setara Rp1,7 jutaan. Angka yang, jujur saja, bikin mikir dua kali sebelum belanja perangkat keras. Nah, pertanyaannya: dengan budget segitu, apakah mungkin dapat home server yang benar-benar bisa dipakai sehari-hari?

Jawabannya: bisa. Asal belanjanya disiplin dan ekspektasinya realistis.

Artikel ini membedah studi kasus yang didokumentasikan kreator YouTube Raid Owl: merakit NAS sekaligus server aplikasi yang benar-benar berfungsi, seluruh komponennya dibeli bekas dari eBay, lalu dipasangi Unraid sebagai sistem operasinya. Ini bukan sekadar cerita "belanja hemat", tapi juga panduan praktis bagi siapa saja yang ingin tahu cara membangun home server murah tanpa harus jadi ahli jaringan dulu. Semua tahapannya — dari aturan main, daftar belanja, pemilihan OS, proses instalasi, sampai hasil uji performanya — dikupas lengkap di bawah ini.


DAFTAR ISI

Aturan Main: 5 Batasan yang Bikin Tantangan Ini "Adil"

Sebelum belanja satu komponen pun, lima aturan berikut ditetapkan lebih dulu. Tujuannya sederhana: memastikan hasil akhirnya bukan cuma kebetulan dapat harga miring, tapi benar-benar bisa direplikasi orang lain yang membaca artikel ini juga.

  1. Tidak boleh COD atau nego langsung dengan penjual lokal. Semua barang wajib dibeli lewat eBay, biar prosesnya bisa ditiru siapa pun tanpa peduli lokasi geografis — walaupun sebenarnya kalau mau cari-cari di marketplace lokal atau forum jual-beli komputer bekas, kemungkinan besar bisa dapat harga yang lebih miring lagi.
  2. Dilarang beli PC rakitan siap pakai (pre-built). Kalau tinggal beli listing pre-built termurah yang paling oke speknya, tantangannya jadi kurang seru — poin utamanya justru di proses milih-milih komponen satu per satu.
  3. Spesifikasi minimum. Wajib minimal PCIe 3.0 x16 dan RAM DDR3, biar nggak kebablasan dapat barang yang sudah terlalu jadul buat dipakai produktif.
  4. Efisiensi daya. Target konsumsi daya di bawah 50 watt. Ini otomatis mencoret sistem dual-socket lawas yang bisa gampang menyedot daya di atas 100 watt sendirian.
  5. Bisa dikembangkan (expandable). Sistemnya harus punya slot buat nambah kartu PCIe atau storage tambahan di kemudian hari — syarat ini langsung mencoret kebanyakan PC mini atau all-in-one dari daftar kandidat.

Kalau kamu tertarik dengan proyek serupa dalam skala lebih kecil, ada juga proyek NAS budget rumahan lainnya yang bisa jadi bahan eksperimen di rumah.

 

banner rumah edho horizontal kecil

Milih Part-nya: Apa Saja yang Bisa Didapat dengan $100?

Pencarian dimulai dari PC-PC yang dijual di bawah $50, biar sisa budgetnya — sekitar separuh — bisa dialokasikan buat storage dan upgrade. Banyak listing yang muncul, tapi kebanyakan gagal di aturan kelima (nggak ada ruang buat ekspansi) atau justru sudah cukup jadul sehingga bikin was-was soal konsumsi dayanya.

Setelah sekitar 30 menit scrolling, ketemu satu listing HP ProDesk yang memenuhi hampir semua kriteria: prosesor Intel Core i5-6500, RAM 8GB DDR4, tanpa storage sama sekali, dibanderol $50 atau nego. Tawaran awal $38 dibalas penjual dengan $45 — dan itu langsung disepakati.

Buat yang penasaran soal cara pilih hardware NAS bekas, prosesor i5-6500 ini sebenarnya pilihan yang cukup masuk akal untuk kelasnya:

  • 4 core, 4 thread, boost clock sampai 3.6GHz
  • Sudah punya integrated graphics
  • Mendukung virtualisasi hardware
  • TDP 65 watt — sedikit di atas target 50 watt, tapi masih bisa ditoleransi karena server rumahan jarang jalan full-load terus-menerus
  • Casing yang lumayan rapi, slot PCIe yang cukup, bahkan masih ada optical drive-nya

Dengan pajak dan ongkir, total belanja PC-nya jadi $48.26 — menyisakan sedikit di atas $50 buat kebutuhan storage.

Karena PC-nya datang tanpa satu pun drive, dan NAS tanpa redundansi itu ya cuma storage biasa, minimal dibutuhkan dua drive. Target awal minimal kapasitas 2TB total, artinya minimal dua drive 2TB. Tapi keputusan akhirnya justru jatuh ke dua HDD 3TB, dengan total $46.78 — kalau dipikir-pikir lagi, dua drive 2TB seharga sekitar $30 sebenarnya bisa menyisakan $20 lebih buat kartu jaringan yang lebih kencang.

Sisa budget di bawah $5 dialokasikan buat drive boot/cache. SSD 60GB jadi pilihannya, seharga $7.48 — membawa total belanja jadi $102.52, alias meleset $2.52 dari budget awal $100. Nggak masalah, namanya juga eksperimen.

KomponenSpesifikasiHarga (USD)Estimasi (IDR)*
PC (HP ProDesk) Intel Core i5-6500, RAM 8GB DDR4 $48.26 ~Rp854.000
Hard disk (×2) 3TB per unit $46.78 ~Rp828.000
SSD cache/boot 60GB $7.48 ~Rp132.000
Total   $102.52 ~Rp1.815.000

*Estimasi memakai kurs ilustrasi ~Rp17.700/USD, bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kurs berjalan.

Kalau kamu baru mau mulai dari nol dan belum pernah otak-atik komponen komputer sama sekali, ada baiknya baca dulu panduan merakit PC dari komponen bekas sebelum terjun ke proyek serupa. Membiasakan diri hemat lewat perangkat bekas juga sejalan dengan semangat software gratis dan open source lainnya yang sering dibahas di sini.

Pilih OS: Unraid, OpenMediaVault, atau yang Lain?

Setelah hardware beres, giliran mikirin software. Dua opsi populer langsung dicoret dari daftar: Proxmox VE, yang biasanya lebih pas dipakai di sistem dengan resource lebih lega buat menjalankan banyak VM dan container sekaligus, dan TrueNAS, yang dibangun di atas filesystem ZFS — sesuatu yang memang bukan bagian dari rencana build ini.

Tinggal dua kandidat tersisa: Unraid dan OpenMediaVault (OMV). Kalau ditelisik lebih dalam, perbandingan Unraid dan OpenMediaVault sebenarnya bukan soal mana yang "lebih bagus", tapi soal penekanan fungsinya. Keduanya sama-sama bisa jalanin fungsi NAS sekaligus virtualisasi berbasis Docker. Bedanya:

  • Unraid — porsi fungsi NAS dan hosting aplikasi cenderung seimbang, cocok buat yang mau server serbaguna.
  • OpenMediaVault — lebih condong jadi NAS murni dulu, dengan fitur virtualisasi sebagai pelengkap saja.

Pada akhirnya, Unraid yang dipilih untuk build ini. Memang bukan software gratis — tapi untuk sistem yang harus merangkap dua peran sekaligus (storage dan app hosting), pilihan ini masuk akal. Buat pembaca yang masih mempertimbangkan opsi lain di luar keduanya, ada juga alternatif open source gratis lainnya yang layak dilirik sebelum memutuskan.

Instalasi dan Setup: Cara Install Unraid untuk Home Server

Dengan cuma dua hard disk yang tersedia, proses install Unraid untuk home server ini jadi relatif sederhana: satu drive dijadikan parity, satu lagi jadi data.

Ada satu hal unik dari cara kerja Unraid yang penting diketahui: setiap drive di dalam array cuma bisa menyumbang kapasitas sebesar drive parity-nya — dalam kasus ini, 3TB. Artinya, drive yang lebih kecil bisa dicampur bebas ke dalam array, tapi kalau ada drive yang lebih besar dari parity-nya, kapasitasnya bakal "dipotong" mengikuti ukuran parity. Fitur ini sebenarnya cukup berguna buat menyelamatkan drive-drive lawas yang beda ukuran biar tetap terpakai, bukannya nganggur di laci.

SSD 60GB tadi bukan dipakai buat boot sistem — Unraid memang didesain boot dari USB drive dan berjalan langsung di RAM. Jadi, SSD itu justru dialokasikan sebagai cache pool, memberi lapisan cache tambahan supaya proses penulisan data ke array jadi lebih responsif.

Untuk memenuhi fungsi NAS-nya, tinggal dibuatkan share dan diekspor lewat protokol SMB, biar bisa diakses dari perangkat lain di jaringan yang sama.

Gimana Performanya di Dunia Nyata?

Transfer file ke array berhasil memaksimalkan koneksi gigabit yang tersedia — hasil yang cukup memuaskan, meski ada pertanyaan menarik: dengan adanya beban kalkulasi parity setiap kali menulis data, apakah NIC 2.5 gigabit benar-benar bakal terasa jauh lebih cepat di drive-drive lawas seperti ini? Jawabannya belum tentu, karena bottleneck-nya bisa jadi ada di kecepatan drive itu sendiri, bukan di jaringan.

Di sisi aplikasi, App Store bawaan Unraid — gabungan image Docker resmi dan buatan komunitas — bikin instalasi software jadi gampang. Sebagian besar aplikasi tinggal sekali klik pasang, sebagian lagi butuh konfigurasi environment variable tambahan. Menjalankan banyak container sekaligus ternyata nyaris tidak membebani sistem selama semuanya idle — bukti nyata bahwa hardware "seadanya" pun bisa menampung cukup banyak server aplikasi Docker murah, asal tidak semuanya jalan berat bersamaan.

Untuk benar-benar menguji batas kemampuannya, dijalankan server Minecraft dan Plex secara bersamaan, termasuk cara transcoding Plex di server murah ini untuk kebutuhan streaming jarak jauh lewat jaringan seluler. Beban ini berhasil mendorong konsumsi daya sistem melewati ambang 50 watt yang ditargetkan di awal — tapi sistemnya tetap responsif, dan server Minecraft-nya tetap lancar dimainkan. Kesimpulannya: hardware sekelas ini cukup andal buat pengguna tunggal atau untuk menyajikan media secara lokal, tapi kalau rencananya melayani Plex ke banyak orang sekaligus dengan transcoding rutin, sebaiknya siapkan hardware yang lebih bertenaga.

Nah, buat konteks pembaca di Indonesia, poin soal transcoding jarak jauh ini relevan banget — mengingat kondisi bandwidth rumahan yang belum tentu merata di semua daerah, memutar media secara lokal di jaringan rumah/kantor sendiri (tanpa transcoding berat) jelas jauh lebih ringan dan stabil dibanding mengandalkan akses jarak jauh terus-menerus.

Satu titik lemah yang cukup jelas: performa virtual machine (VM). Percobaan menjalankan VM hasilnya sangat lambat, bahkan instalasi Ubuntu Desktop polos tanpa layanan lain yang aktif pun berulang kali macet di tengah proses. Karena peran utama sistem ini memang sebagai server aplikasi berbasis Docker, bukan host VM, hal ini bukan masalah besar — tapi tetap jadi batasan yang penting diketahui sebelum memutuskan pakai hardware serupa untuk kebutuhan virtualisasi berat.

Bicara soal keamanan data yang tersimpan di NAS, ada baiknya juga membiasakan diri dengan cara backup data dengan aman, supaya data penting tidak cuma bergantung pada satu titik penyimpanan saja. Sebagai alternatif tambahan buat kebutuhan penyimpanan cloud pribadi tanpa biaya langganan, opsi cloud storage gratis tanpa langganan juga layak dicoba sebagai pelengkap NAS di rumah.

Kesimpulan: Worth It Nggak, Sih, Home Server $100 Ini?

Kesimpulannya jelas positif, dengan catatan yang juga jelas: budget $100 pasti datang dengan trade-off. Lebih banyak RAM, prosesor lebih kencang, jaringan lebih cepat, dan GPU khusus tentu jadi tambahan yang menggiurkan — tapi untuk harga segitu, hasil akhirnya tetap berupa NAS dan server aplikasi Docker yang benar-benar bisa diandalkan sehari-hari.

Kalau harus mengulang proyek ini dari awal, satu perubahan yang paling masuk akal adalah mengorbankan sedikit kapasitas storage demi jaringan yang lebih baik — entah NIC 2.5 gigabit atau NIC quad-port gigabit, yang sekaligus membuka peluang menjalankan firewall virtual di sistem yang sama.

Buat pembaca dengan budget lebih kecil dari $100, jalur belanja part satu-satu di eBay bukan satu-satunya cara. Marketplace lokal, forum jual-beli komputer bekas, sampai grup Facebook Marketplace di Indonesia biasanya juga punya banyak sistem rakitan siap pakai yang dijual jauh lebih murah dibanding beli semua komponen terpisah. Bagi yang benar-benar baru mulai dan ingin memahami konsep server hemat untuk pemula IT sebelum belanja apa pun, memahami dulu aturan main dan batasan di atas jauh lebih penting daripada terburu-buru checkout.



Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Video AslinyaBuilding a HOME SERVER on a BUDGET

Benarkah bisa bikin NAS yang beneran jalan dengan budget di bawah $100? Bisa. Studi kasus ini menghabiskan $102.52 (sekitar Rp1,8 jutaan) untuk sistem lengkap — PC bekas dengan Core i5-6500 dan RAM 8GB, dua HDD 3TB dalam array yang dilindungi parity, plus SSD 60GB sebagai cache — semuanya berjalan di atas Unraid.

OS apa yang paling cocok buat home server dengan budget terbatas? Tergantung prioritas. Unraid menyeimbangkan fungsi NAS dan hosting aplikasi Docker dengan baik, tapi berbayar. OpenMediaVault gratis dan lebih fokus sebagai NAS murni. TrueNAS lebih unggul untuk setup berbasis ZFS. Proxmox VE lebih pas untuk build yang fokus menjalankan banyak virtual machine ketimbang storage.

Berapa RAM dan storage minimal yang dibutuhkan untuk NAS rumahan sederhana? Build ini berjalan dengan RAM 8GB dan dua HDD 3TB dalam array parity (kapasitas efektif sekitar 3TB yang terlindungi). Cukup untuk hosting aplikasi Docker ringan dan penyimpanan file lokal, tapi kalau rencananya buat beban lebih berat seperti transcoding Plex multi-user atau virtual machine, sebaiknya siapkan RAM dan CPU dengan headroom lebih besar.

Bisa nggak home server murah menjalankan Plex dan aplikasi lain secara bersamaan? Bisa, untuk beban ringan atau pengguna tunggal — server Minecraft dan stream Plex yang di-transcode berjalan bersamaan tanpa masalah berarti. Tapi kalau rencananya melayani Plex ke banyak pengguna jarak jauh sekaligus yang butuh transcoding, itu beban yang jauh lebih berat dan sebaiknya diimbangi CPU yang lebih kencang atau GPU khusus.

Apakah hardware sekelas ini bisa dipakai buat menjalankan virtual machine? Kurang optimal. Performa VM jadi titik lemah paling jelas di build ini — bahkan VM desktop sederhana pun kesulitan saat instalasi. Hardware seadanya seperti ini jauh lebih cocok untuk container Docker ketimbang virtual machine penuh.

Butuh Bantuan Bangun atau Kelola Server Sendiri di Tempat Kerja?


Banner Layanan Asisten Virtual
Banner Layanan Asisten Virtual


Baca sampai sini, mungkin ada yang mulai kepikiran: "Kelihatannya seru, tapi siapa yang punya waktu buat trial-error kayak gini di tengah kesibukan kerja?" Wajar banget. Nggak semua sekolah, pesantren, kantor ASN, atau UMKM punya staf IT tetap yang bisa disuruh riset part bekas, install OS, sampai troubleshoot server tiap ada masalah — padahal kebutuhan penyimpanan data yang rapi dan aman itu makin lama makin krusial, bukan cuma soal gengsi teknologi.

Di sinilah konsultasi IT untuk masalah teknis dari Rizal IT Consulting bisa jadi jalan pintas — mulai dari membantu menentukan solusi penyimpanan data yang sesuai kebutuhan dan budget, sampai pendampingan setup-nya. Buat lembaga pendidikan atau instansi yang butuh tangan tambahan secara rutin tanpa harus merekrut staf IT permanen, asisten virtual untuk lembaga pendidikan juga bisa jadi opsi yang lebih fleksibel dan hemat biaya jangka panjang.


Kontak Kami


 

Kami dapat memperoleh komisi ketika Anda bertransaksi di tautan yang ditampilkan di situs ini. Ikuti saluran kami di Whatsapp untuk info artikel terbaru. Pertanyaan bisnis atau penempatan konten promosi: 0813-8229-7207 | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya..

 

🗓️ Sejak 2006 💻 Sabtu - Kamis ⏰ 08-17 WIB ☎️ 0813-8229-7207 📧 Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Banner Layanan Asisten Virtual