Skip to main content

Software Developer Gratis yang Dipakai lebih dari 3/4 Programmer Dunia — dan Kisah di Baliknya

13 Mei 2026
 

Pernah dengar kisah seseorang yang bergabung ke perusahaan yang dulu jadi saingan utama tempat dia bekerja — lalu tanpa sengaja membunuh produk lamanya sendiri?

Itu bukan fiksi. Itu kisah nyata di balik salah satu tools yang kamu pakai setiap hari — kalau kamu seorang developer.

Dan itu baru satu cerita. Di artikel ini, ada kisah tentang dua teman SD yang menjual perusahaan mereka ke OpenAI seharga Rp48 triliun, seorang developer yang membangun framework untuk seluruh industri audio profesional, dan seorang pemilik tool populer yang tersangkut "enshittification" paling dramatis dalam sejarah developer tools.

Semuanya gratis. Semua sudah dipakai jutaan orang. Dan beberapa di antaranya mungkin sudah ada di PC kamu tanpa kamu tahu betapa gilanya kisah di baliknya.

⚠️ Catatan: Beberapa tautan eksternal dalam artikel ini mengarah ke situs resmi masing-masing software. Mengingat dunia digital bergerak cepat, ada kemungkinan sebagian URL sudah berubah atau tidak dapat diakses saat kamu membaca ini.

DAFTAR ISI

💻 Tools Coding & Development

1. Sublime Text → VS Code

Kisah "Mantan" yang Tidak Sengaja Membunuh Produk Lamanya Sendiri

VS Code dibangun oleh Erich Gamma — salah satu dari empat penulis buku Design Patterns yang dijuluki "Gang of Four." Buku itu diterbitkan tahun 1994 dan sampai hari ini masih jadi referensi wajib di hampir setiap kurikulum ilmu komputer di dunia.

Yang bikin ceritanya absurd: sebelum bergabung ke Microsoft, Gamma memimpin pengembangan Eclipse di IBM. Eclipse diberi nama dengan satu tujuan — to eclipse (mengalahkan) Visual Studio. Dia kemudian bergabung ke Microsoft, lalu membangun VS Code — yang justru membunuh GitHub Atom (milik Microsoft sendiri) dan menguasai pasar dengan market share 75,9% di kalangan developer global.

VS Code bermula sebagai editor browser yang gagal dengan 3.000 pengguna. Sekarang, hampir 8 dari 10 developer di dunia membukanya setiap hari kerja.

Trik yang wajib diketahui:

Versi VS Code yang bisa diunduh di situs resmi menyertakan telemetri Microsoft — artinya ada data penggunaan yang dikirim ke server mereka. Kalau kamu tidak nyaman dengan itu, instal VSCodium — build identik dari source code yang sama, tapi dengan semua telemetri dibuang. Ekstensi yang sama, performa yang sama, tanpa pengawasan.

2. GitHub Copilot → Codeium / Windsurf

Dari Bangku SMP ke Akuisisi Rp48 Triliun

Varun Mohan dan Douglas Chen pertama kali bertemu saat masih SMP. Mereka kemudian bersama-sama membangun Exafunction — perusahaan infrastruktur GPU yang berhasil menggalang dana Rp450 miliar.

Lalu mereka membuat keputusan yang sangat tidak biasa: di satu akhir pekan, mereka menutup seluruh perusahaan itu karena sadar AI akan menghancurkan pasar mereka. Bukan setahun ke depan — segera. Mereka pivot total ke AI coding assistant.

Hasilnya: Codeium (kemudian berganti nama jadi Windsurf). Dalam satu tahun, 300.000 pengguna bergabung. Di 2025, OpenAI mengakuisisinya seharga Rp48 triliun — salah satu akuisisi terbesar OpenAI sepanjang sejarah. Semuanya dimulai dari dua teman lama yang berani membuang segalanya di akhir pekan.

Trik yang membedakannya dari Copilot:

Codeium bekerja di dalam VS Code, JetBrains, Vim, dan Emacs. Tidak butuh kartu kredit. Tidak ada batas berarti untuk pengguna individual di tier gratis-nya — sementara GitHub Copilot menarik biaya Rp160.000/bulan untuk fitur yang sebanding. Untuk developer solo atau freelancer, ini selisih yang signifikan di akhir tahun.


3. Webflow → WordPress

Dari Bayar Server dengan Main Saksofon, ke Persidangan Miliaran Dolar

Matt Mullenweg mulai membangun WordPress saat berusia 18 tahun — mem-fork sebuah blog tool bernama b2/cafelog yang ditinggalkan developernya begitu saja, tanpa pemberitahuan. Seorang teman menyarankan nama "WordPress."

Mullenweg kuliah sambil main saksofon, dan untuk beberapa waktu, dia membayar biaya server WordPress dari honorarium gig musik-nya. Setiap rilis WordPress dinamai sesuai musisi jazz — tradisi yang masih berlanjut sampai hari ini.

Hasilnya: WordPress sekarang mentenagai 43% dari seluruh website di internet. Bukan 43% dari website kecil — 43% dari semua website, termasuk BBC, Sony Music, TechCrunch, dan The New Yorker.

Tapi ada plot twist yang sedang bergulir: di 2024, Mullenweg secara terbuka menyebut pelanggan terbesarnya sebagai "kanker" bagi ekosistem WordPress, memblokir lebih dari 200.000 website dari mendapat update, dan mengambil alih sebuah plugin populer tanpa persetujuan. 159 karyawan mengundurkan diri dalam satu gelombang. Persidangannya dijadwalkan Februari 2027.

Ceritanya belum selesai — tapi WordPress-nya sendiri tetap berjalan, tetap gratis, dan tetap yang paling banyak dipakai.

Trik yang sering salah dipahami:

Ada dua WordPress yang berbeda dan sering tertukar:

  • WordPress.org (self-hosted) → 100% gratis. Instal di VPS seharga Rp60.000/bulan, kamu punya website profesional penuh dengan biaya kurang dari secangkir kopi premium per hari.
  • WordPress.com (hosted) → freemium. Gratis tapi dengan keterbatasan, berbayar untuk fitur lebih.

Untuk membangun website bisnis dengan budget minimal, pilihan pertama yang harus dipertimbangkan adalah WordPress.org self-hosted — bukan Webflow yang mulai dari Rp300.000/bulan.

4. Postman → Bruno

"Enshittification" Paling Dramatis dalam Sejarah Developer Tools

Ini adalah kisah peringatan — dan sekaligus kisah komunitas yang belajar dengan cepat.

Gregory Schier membangun Insomnia sendirian. Tumbuh sampai menghasilkan Rp320 juta/bulan. Lalu dia burn out dan menjual ke Kong Inc. Setelah akuisisi, Kong melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan developer tools sebelumnya: mereka mengaktifkan kewajiban akun cloud secara mendadak, tanpa pemberitahuan, di sebuah update otomatis.

Pengguna yang membuka Insomnia keesokan harinya tidak bisa mengakses data API mereka sendiri tanpa login ke cloud Kong. GitHub Issue yang muncul diberi judul: "enshittification / needing an account" — dan langsung jadi viral di komunitas developer.

Komunitas bereaksi dalam hitungan jam. Mereka fork Insomnia, menamakannya Insomnium (diambil dari nama band death metal Finlandia). Tapi yang lebih penting, mereka menemukan Bruno — dan tidak pernah kembali.

Kenapa Bruno menang:

Bruno menyimpan koleksi API langsung sebagai file teks biasa di dalam Git repo kamu. Tidak ada akun. Tidak ada cloud. Tidak ada yang bisa mengunci datamu. Filosofi ini lahir langsung dari trauma Insomnia — dan komunitas developer sudah mendukungnya sepenuhnya.

Rantai migrasi yang sekarang sering terlihat di forum developer: Postman → Insomnia → Bruno. Kalau kamu masih di Postman, kamu bisa loncat langsung ke Bruno.


5. TablePlus → DBeaver

Nama yang Baru Dijelaskan Setelah 14 Tahun

Serge Rider memulai DBeaver sebagai proyek hobi di 2010 — bukan untuk dijual, bukan untuk startup, hanya karena dia butuh tool database yang layak dan tidak mau bayar lisensi mahal.

Selama 14 tahun, tidak ada yang tahu kenapa namanya "DBeaver." Baru di 2024 mereka menjelaskan resmi: DB (database) + Beaver — karena berang-berang membangun bendungan (seperti DBA membangun database), bekerja dengan pohon (database relasional punya struktur pohon), dan "eager beaver" dalam bahasa Inggris artinya pekerja keras.

Rider tidak pernah berencana menjualnya. Ketika versi komersial diluncurkan, lisensi pertama terjual keesokan harinya — bukan dari pelanggan korporat, tapi dari member komunitas yang hanya ingin mengucapkan terima kasih.

Sekarang DBeaver punya 8 juta pengguna dan mendukung lebih dari 80 jenis database.

Trik yang menggantikan software berbayar sepenuhnya:

Klik kanan pada database di DBeaver → pilih View Diagram — DBeaver akan langsung men-generate ER diagram lengkap dari skema database kamu. Tool khusus untuk database modeling biasanya dibanderol Rp500.000–Rp2 juta per tahun. Di DBeaver: gratis, bisa langsung dipakai, tidak perlu setup tambahan.

Ini sangat berguna untuk tim yang bekerja dengan banyak database atau developer yang perlu mendokumentasikan struktur data untuk klien.


⚡ Tabel Perbandingan Cepat

KebutuhanPakai IniKeunggulan Utama
Code editor harian VS Code 75,9% market share, ekosistem ekstensi terbesar
Code editor tanpa telemetri VSCodium Identik dengan VS Code, nol pelacakan
AI coding assistant Codeium/Windsurf Gratis tanpa batas bermakna, diakuisisi OpenAI Rp48T
Bangun website/blog WordPress.org Mentenagai 43% internet, self-host dari Rp60rb/bulan
API testing & development Bruno File tersimpan di Git, nol akun, nol lock-in
Database management DBeaver 80+ database didukung, ER diagram otomatis

Penutup

Ada pola yang berulang di seluruh daftar ini: tool terbaik hampir tidak pernah lahir dari rencana bisnis yang matang. VS Code bermula dari editor yang gagal. WordPress dibayar servernya dengan honor musik. DBeaver adalah hobi yang tidak disengaja. Bruno lahir dari kemarahan komunitas.

Yang membedakan tools di kategori ini dari tools desain atau video adalah biayanya langsung terasa. GitHub Copilot, Postman Teams, Sublime Text, TablePlus — semuanya berlangganan, dan semuanya berulang setiap bulan atau tahun. Stack developer yang sepenuhnya berbayar bisa dengan mudah menghabiskan Rp3–5 juta per tahun hanya untuk tools.

Stack dari daftar di atas: Rp0.

Kalau kamu baru membangun stack development atau sedang mengevaluasi ulang pengeluaran software, panduan aplikasi open-source terbaik untuk Windows bisa jadi titik mulai yang baik — beberapa tools di artikel itu melengkapi apa yang dibahas di sini.

Dan kalau kamu tertarik lebih jauh dengan keamanan di balik tools yang kamu pakai sehari-hari — khususnya soal password manager dan enkripsi data — itu akan dibahas lengkap di artikel berikutnya dalam seri ini.


Sudah Tahu Tools-nya — Tapi Siapa yang Bantu Setup dan Troubleshoot Kalau Ada yang Tidak Berjalan?

Migrasi dari Postman ke Bruno itu mudah — kalau kamu tahu caranya. Setup WordPress self-hosted di VPS juga bukan hal yang rumit — kalau ada yang bisa ditanya ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Di sinilah yang sering terjadi: stack-nya sudah dipilih, niatnya sudah bulat, tapi di tengah proses ada satu error yang menghabiskan dua jam waktu produktif hanya untuk mencari solusinya.

Bukan karena kamu tidak mampu — tapi karena waktu kamu terlalu berharga untuk dihabiskan di situ.

Rizal IT Consulting melayani kebutuhan support IT online dan konsultasi teknis untuk developer, freelancer, dan pemilik bisnis di seluruh Indonesia — sepenuhnya remote, tanpa perlu tatap muka. Dari troubleshooting setup awal, konfigurasi server, hingga memastikan workflow development kamu berjalan tanpa hambatan.

Kontak Kami
📧 Email:
📱WhatsApp: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207
🕐Operasional: Sabtu – Kamis, 08.00 – 17.30 WIB

🌏 Layanan kami tersedia online untuk seluruh Indonesia dan bisa dimulai semudah satu pesan WhatsApp.

Kalau penasaran seperti apa layanannya, mulai saja dari obrolan ringan. Tidak ada komitmen, tidak ada tekanan.

Blog ini didukung oleh pembaca. Rizal IT Consulting dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda bertransaksi di tautan yang ditampilkan di situs ini. Ikuti kami juga di Google News Publisher untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru. Info lanjut, kolaborasi, sponsorship dan promosi, ataupun kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597 | 0813-8229-7207 | .

 

✓ Link berhasil disalin!
Foto Rizal Consulting
Full-time Freelancer
🗓️ Sejak 2006 💻 Sabtu - Kamis ⏰ 08-17 WIB ☎️ 0813-8229-7207 📧